Kamis, 17 September 2015

6 Bahtera Nuh Misteri Peradaban Tinggi Masa Lalu

Diperkirakan, Malaysia dan Indonesia dahulunya menyatu, dimana sungai musi dan sungai kapuas, merupakan anak sungai, dari sebuah sungai, yang saat ini berada di dasar laut Selat Malaka.

Hanya saja, ketika membahas tentang pulau Jawa dan sejarah purbanya, kita mengenal adanya legenda benua Atlantis yang kemudian dipercaya sebagai sebuah peradaban masa lalu sebelum hadirnya manusia saat ini. Dalam proses penafsiran Al-Qur’an, kebudayaan Atlantis (juga Lemurian) dianggap sebagai “umat terdahulu”, dan manusia yang ada sekarang sungguh berbeda jauh dengan manusia terdahulu tersebut.

Dalam berbagai pembahasan seputar asal usul Atlantis, ada sejumlah kesimpulan yang mengatakan bahwa sebenarnya daratan Atlantis itu adalah sebagian besar kepulauan di Indonesia saat ini. Dulunya, pulau Jawa, Sumatera dan Kalimantan adala sebuah kesatuan yang utuh sebelum diterjang sejumlah bencana gempa dan tsunami maha dahsyat kala itu.
 


Berdasarkan ilmu Geografi, Pulau Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Jazirah Malaka dipisahkan oleh laut yang dangkal. Diperkirakan sebelum terjadi bencana Nuh, pulau-pulau itu berada dalam satu daratan, yang disebut Keping Sunda (Sunda Plat).

Beberapa ilmuwan, diantaranya Profesor Aryso Santos dari Brasil, menduga Keping Sunda ini, dahulunya merupakan benua Atlantis, seperti disebut-sebut Plato di dalam bukunya Timeus dan Critias.

Peradaban Tinggi Masa Lalu



Kemajuan teknologi di masa lalu, juga terlihat dari kecanggihan, kapal yang dibuat Nabi Nuh bersama pengikutnya, sekitar 11.000 SM (13.000 tahun yang lalu).

Mari kita coba bayangkan…
Kapal ini bisa memuat ribuan bahkan mungkin ratusan ribu pasang hewan, yang kelak menjadi nenek moyang hewan masa kini….
Masing-masing hewan harus ditempatkan sesuai dengan habitatnya. Unta harus di tempat yang panas. Pinguin harus di daerah dingin. Belum lagi buat binatang-binatang kecil seperti semut, kutu, jangkrik, dll. Semuanya harus disiapkan tempat khusus. Kalau tidak, wah, jelas binatang-binatang kecil itu bisa terinjak-injak oleh binatang-binatang lainnya.
Untuk pelayaran berminggu-minggu jelas diperlukan gudang makanan yang besar dan canggih. Kalau tidak, bisa-bisa semua tikus dimakan ular, akibatnya tikus menjadi punah. Belum lagi makanan buat harimau, singa dan buaya. Untuk sapi, kambing dan kuda juga harus disiapkan rumput segar.
Tempat makanan juga harus steril, sebab kalau sampai hewan itu sakit lalu mati, hewan tersebut akan menjadi punah. Mungkin kita tidak akan pernah melihat lagi di masa sekarang kalau saja di masa itu telah punah.
Kapal tersebut juga dirancang agar tahan terhadap terjangan ombak dan air bah, yang mungkin 1000x lebih hebat dari tsunami. Dan harus menahan beban ribuan hewan.
Di dalam Al Qur’an diceritakan, gelombang air ketika itu laksana gunung, sebagaimana firman-Nya : ”Dan bahtera itu berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung…” (QS. Hud (11) ayat 42-43).
Bahkan berdasarkan pendapat, salah seorang cendikiawan Muslim, Ustadz Nazwar Syamsu, dalam Buku Serial “Tauhid dan Logika“, bencana Nuh ini, telah mengakibatkan bergesernya kutub utara bumi, dari Makkah kepada posisinya yang sekarang. 
Kapal Nabi Nuh AS ini dibuat di atas bukit yang tinggi. Diperlukan peralatan yang canggih untuk mengangkut bahan bangunannya. Belum lagi perhitungan struktur kapal yang harus teliti, tentunya untuk proyek raksasa perjalanan Nabi Nuh AS dan pengikutnya, tidak mungkin dibuat secara asal-asalan.

.
The Great Noah Ark, belum ditemukan

Dengan memperhatikan, betapa dahsyatnya teknologi Bahtera Nuh ini, rasanya sulit bagi kita untuk mempercayai temuan Ekspedisi “Noah’s Ark Ministries International” (NAMI) dari Hongkong, yang mengklaim telah menemukan ”The Great Noah Ark”, di gunung Arafat Turki, pada ketinggian 4.000 meter, sekitar bulan April 2010.

Lagi pula Kapal Nabi Nuh, yang mereka temukan diperkirakan terbuat dari susunan kayu purba, dan berdasarkan hasil penelitian, telah berumur 4.800 tahun.

Apa mungkin, ada sebuah kapal kayu bisa bertahan dari bencana Nuh, yang gelombangnya laksana gunung, dengan kekuatan mungkin 1.000 kali, lebih hebatnya dari Tsunami di Aceh?
 
Apa ada bukti arkeologis, yang menyatakan pada 4.800 tahun yang lalu, pernah terjadi banjir besar di permukaan bumi?

Intinya, Kapal Nabi Nuh AS merupakan kapal tercanggih yang pernah dibuat umat manusia. Dan sampai saat ini, keberadaannya masih misterius.

Bencana banjir di masa Nabi Nuh AS telah menghancurkan dan menenggelamkan peradaban tinggi umat manusia pada masa itu. Akibatnya peradaban itu musnah tak bersisa kecuali sebagian kecil saja yang diselamatkan, dan semua itu telah membawa kembali umat manusia kepada zaman sebelum yaitu zaman batu (kepercayaan terhadap hyang, karuhun, dewa-dewi dsb)

6 Maha Patih Gajah Mada Islam

Gajah Mada terkenal dengan sumpahnya, yaitu Sumpah Palapa, yang tercatat di dalam Pararaton. Ia menyatakan tidak akan memakan palapa sebelum berhasil menyatukan Nusantara. Meskipun ia adalah salah satu tokoh sentral saat itu, sangat sedikit catatan-catatan sejarah yang ditemukan mengenai dirinya. Wajah sesungguhnya dari tokoh Gajah Mada, saat ini masih kontroversial. Banyak masyarakat Indonesia masa sekarang yang menganggapnya sebagai pahlawan dan simbol nasionalisme Indonesia dan persatuan Nusantara.

Tidak ada informasi dalam sumber sejarah yang tersedia saat pada awal kehidupannya, kecuali bahwa ia dilahirkan sebagai seorang biasa yang naik dalam awal kariernya menjadi Begelen atau setingkat kepala pasukan Bhayangkara pada Raja Jayanagara (1309-1328) terdapat sumber yang mengatakan bahwa Gajah Mada bernama lahir Mada sedangkan nama Gajah Mada kemungkinan merupakan nama sejak menjabat sebagai patih.

Dalam pupuh Désawarnana atau Nāgarakṛtāgama karya Prapanca yang ditemukan saat penyerangan Istana Tjakranagara di Pulau Lombok pada tahun 1894 terdapat informasi bahwa Gajah Mada merupakan patih dari Kerajaan Daha dan kemudian menjadi patih dari Kerajaan Daha dan Kerajaan Janggala yang membuatnya kemudian masuk kedalam strata sosial elitis pada saat itu dan Gajah Mada digambarkan pula sebagai "seorang yang mengesankan, berbicara dengan tajam atau tegas, jujur dan tulus ikhlas serta berpikiran sehat".

Menurut Pararaton, Gajah Mada sebagai komandan pasukan khusus Bhayangkara berhasil memadamkan Pemberontakan Ra Kuti, dan menyelamatkan Prabu Jayanagara (1309-1328) putra Raden Wijaya dari Dara Petak. Selanjutnya pada tahun 1319 ia diangkat sebagai Patih Kahuripan, dan dua tahun kemudian ia diangkat sebagai Patih Kediri.

Pada tahun 1329, Patih Majapahit yakni Arya Tadah (Mpu Krewes) ingin mengundurkan diri dari jabatannya. Dan menunjuk Patih Gajah Mada dari Kediri sebagai penggantinya. Patih Gajah Mada sendiri tak langsung menyetujui, tetapi ia ingin membuat jasa dahulu pada Majapahit dengan menaklukkan Keta dan Sadeng yang saat itu sedang memberontak terhadap Majapahit. Keta dan Sadeng pun akhirnya dapat ditaklukan. Akhirnya, pada tahun 1334, Gajah Mada diangkat menjadi Mahapatih secara resmi oleh Ratu Tribhuwanatunggadewi (1328-1351) yang waktu itu telah memerintah Majapahit setelah terbunuhnya Jayanagara.
Sejarah yang dihubung-kaitkan dengan sastra merupakan suatu sudut pandang seseorang yang pembuatnya, bahkan sangat sangat tergantung dengan motivasisi pembuat itu sendiri. Hal ini berkaitan pula dengan kepentingan masing-masing dalam membuat sejarah dan karya sastra tersebut.

Mungkin  ini pula yang terjadi dengan Majapahit, sebuah kerajaan maha besar disuatu mandala masa lampau. Kekuasaannya membentang luas hingga mencakup sebagian besar wilayah Asia Tenggara sekarang.

Selama ini, upaya pemahaman karya sastra dan  sejarah seakan melupakan beragam bukti arkeologis, sosiologis dan antropologis yang berkaitan dengan Majapahit yang jika dicerna dan dipahami secara arif akan mengungkapkan fakta yang mengejutkan. Viddy AD Daery sekarang sedang berencana menerbitkan novel PSD Misteri Gajah Mada Islam, dan kalau saya baca draftnya itu, dalam novelnya, sang penulis mencoba mematahkan pemahaman yang sudah berkembang selama ini dalam khazanah sejarah masyarakat Nusantara.

Gajah Mada pada waktu pengangkatannya mengucapkan Sumpah Palapa, yakni ia baru berhenti berpuasa “berlara-lapa” atau justru akan menikmati palapa atau rempah-rempah yang merupakan  kenikmatan duniawi jika telah berhasil menaklukkan Nusantara. Kitab Pararaton menyatakan, bahwa: 

Sira Gajah Mada pepatih amungkubumi tan ayun amukti palapa, sira Gajah Mada: Lamun huwus kalah nusantara ingsun amukti palapa, lamun kalah ring Gurun, ring Seram, Tañjungpura, ring Haru, ring Pahang, Dompu, ring Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, samana ingsun amukti palapa

bila dialih-bahasakan mempunyai arti:

Ia, Gajah Mada sebagai patih Amangkubumi tidak ingin melepaskan puasa, Gajah Mada berkata bahwa bila telah mengalahkan (menguasai) Nusantara, saya (baru akan) melepaskan puasa, bila telah mengalahkan Gurun, Seram, Tanjung Pura, Haru, Pahang, Dompo, Bali, Sunda, Palembang, Tumasik, demikianlah saya (baru akan) melepaskan puasa

Meskipun sejumlah orang yang meragukan sumpahnya, Patih Gajah Mada memang hampir berhasil menaklukkan Nusantara. Bedahulu (Bali) dan Lombok (1343), Palembang, Swarnabhumi (Sriwijaya), Temiang, Samudra Pasai, dan negeri-negeri lain di Swarnadwipa (Sumatra) telah ditaklukkan. Lalu Pulau Bintan, Tumasik (Singapura), Semenanjung Malaya, dan sejumlah negeri di Kalimantan seperti Kapuas, Katingan, dan Sampit.

Penelitian LHKP Muhammadiyah Yogyakarta

Banyak pula yang bertanya, apakah memang Gajah Mada beragama Islam? Viddy AD Daery tidak mengulas hal itu dalam Novelnya secara langsung, melainkan menyisipkan dalam beberapa dialog para pelaku utama dalam novel, namun menarik juga untuk merujuk kepada penelitian dan kajian Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah Yogyakarta telah melakukan kajian ulang terhadap sejarah Majapahit.

Hasil kajian tersebut diterbitkan dengan judul Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah Yang Tersembunyi. Hasil penelitian tersebut menyimpulkan, bahwa;

- Telah ditemukan koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah,  Muhammad Rasulullah’.

- Batu nisan Syaikh Maulana Malik Ibrabim (Sunan Gresik) terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah seorang Qadhi (hakim agama Islam) kerajaan Majapahit.

- Lambang kerajaan Majapahit berupa delapan sinar matahari dengan beberapa tulisan arab yakni Sifat, Asma, Ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, Tauhid dan Dzat.

- Raden Wijaya pendiri kerajaan Majapahit besar kemungkinan seorang muslim. Beliau adalah cucu dari Prabu Guru Dharmasiksa, seorang Raja Sunda sekaligus ulama Islam Pasundan. Sedangkan neneknya merupakan seorang muslimah keturunan penguasa Kerajaan Sriwijaya.

- Patih Gajah Mada sebagai Patih kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa juga seorang muslim. Nama aslinya adalah Gaj Ahmada. Setelah mengundurkan diri dari kerajaan, Patih Gaj Ahmada lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Mada oleh masyarakat sekitar. Pernyataan ini diperkuat dengan bukti fisik yaitu pada nisan makam Gajah Mada di Mojokerto terdapat tulisan ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.

- Bahwa pada 1253 M, tentara Mongol pimpinan Hulagu Khan menyerbu Baghdad. Timur Tengah pun berada dalam situasi konflik yang tidak menentu. Terjadilah eksodus besar-besaran (pengungsian) kaum muslim dari Timur Tengah. Mereka menuju kawasan Nuswantara (atau Nusantara) yang kaya akan sumber daya alamnya. Mereka menetap dan melanjutkan keturunan yang sebagian besar nantinya menjadi penguasa kerajaan-kerajaan di nusantara, termasuk kerajaan Majapahit.

Fakta tersebut menjelaskan, bahwa Gajah Mada dan Kerajaan Majaphit besar kemungkinan sudah menganut agama Islam. Bukti koin emas yang merupakan sebuah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan, maka sungguhlah mustahil jika dikatakan bahwa sebuah kerajaan Hindu memiliki koin yang bertuliskan kalimah Tauhid, sebagaimana juga batu nisan yang menandakan bahwa Agama Islam merupakan agama resmi kerajaan tersebut. Tidak pula mungkin, sebuah kerajaan non Muslim menggunakan lambang resmi bertuliskan kata-kata arab dan Al Quran.

Selain itu, meskipun Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana (bahasa sansekerta), hal ini tidak lantas menjadikan seseorang itu otomatis pemeluk Hindu. Gelar seperti ini masih digunakan oleh raja-raja Muslim Jawa zaman sekarang seperti Hamengkubuwono dan Paku Alam. Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada, bahkan kekuasaannya sampai ke semenanjung Melayu (Malaka/Malaysia).

Membaca (draft) novel Misteri Gajah Mada Islam karya Viddy, kita seolah-olah terlibat dengan masa lalu pada sebuah kerajaan yang dibingkai dalam warna kemegahan dan kekuatan penyebaran Islam. Viddy AD Daery berhasil membawa pembacanya hanyut dalam dialog, gerakan dan tingkah-laku tokoh dalam novelnya. Sebagai pembaca kita dibawa ke masa lalu yang megah dengan kekuatan agama Islam sungguh-sungguh ditonjolkan. Paling tidak, pembaca akan mempunyai kekuatan diri tentang penyebaran dan ketaatan penganut agama Islam.

Oleh: Ahada Wahyusari, Tanjung Pinang – Kepri Dosen Universitas Maritim Raja Ali Haji

Diduga Gajah Mada menjadi seorang muslim ketika beliau menjadi bhayangkara, atau mungkin beberapa saat sebelum menjadi Maha Patih.

Pernahkah pembaca berpikir bagaimana Islam dan bahasa Melayu (60% serapan dari bahasa Arab) dapat tumbuh subur di Nusantara? Sedangkan di negeri kuno Burma, Siam, Vietnam dan Kamboja, Islam hanya minoritas!

Diduga ada peran tak langsung dari politik Gajah Mada di Kerajaan Majapahit yang nota bene bukan kesultanan Islam. Bahkan “Gayatri Rajapatni seorang Arsitek politik Majapahit” pun kaget dan kagum pada kemampuaan politik Gajah Mada yang baginya dianggap sudra misterius.

Dalam buku “Gayatri Rajapatni” Karya Earl Drake Hal 109-117, terlihat Drake tidak mengetahui bagaimana Gajah Mada memiliki wawasan yang luas, bahkan di luar nalar kerajaan Majapahit saat itu.

Ada beberapa politik Gajah Mada yang luar biasa, yang akhirnya membawa kesuksesan bagi Majapahit di Nusantara, seperti:

1) Memperluas wilayah Majapahit dengan menundukkan Pemerintah di Nusantara. Saat beliau di lantik menjadi Maha Patih, dengan tekad Sumpah Palapa Tan ayun amukti Palapa tidak buka puasa sebelum tercapai cita-cita, itu adalah puasa ala nabi Daud AS.

2) Menyusun kitab hukum “Kutara Manawa sastra” yang meniru Al Qanun al Azazi (kitab Hukum syariat Islam).

3) Menerapkan Politik Bahasa penduduk, yaitu: Bagi Pribumi Jawa adalah bahasa Jawa, dan untuk orang luar Jawa (seberang) adalah Bahasa Melayu Islam (dengan merombak Bahasa Melayu kuno yang bercampur Bahasa Sansekerta). Politik Bahasa ini menyebar di seluruh Nusantara: dari Pattani, Champa, Vietnam, Malaysia, Singapura, Indonesia, Brunei, Sulu (Moro Philipina), Darwin Australia, dan semua negeri-negeri Polinesia dan Mikronesia pasifik.

Ketika politik tersebut di terapkan setahap demi setahap, Gayatri Rajapatni kaget dan terheran-heran, karena beliau lah yang mengajari Gajah Mada dalam berpolitik.

Pada saat Gajah Mada (atas saran Gayatri) akan mencaplok Bali, Gayatri khawatir pada dominasi peran orang-orang Islam di Majapahit, meskipun muslim adalah penduduk minoritas. Apa lagi setelah dicetaknya koin dinar emas kerajaan Majapahit yang memuat kalimat syahadat-meski jumlahnya tidak banyak, yang digunakan untuk alat tukar ke Aceh, Arab dan India yang muslim.

Singkatnya, Islam bukan barang langka di Majapahit . Dalam kitab “Ying Yai Sheng Lan” yang terbit tahun 1416-1433 (zaman Majapahit mulai mundur, tapi belum benar-benar hancur), karya Ma Huan, juru tulis dan penerjemah Laksana Cheng Ho dalam ekspedisi 1405-1433, tertulis:

Ada tiga golongan dalam Masyarakat di Tuban, Surabaya, kota baru (dusun baru tanpa nama-bisa jadi dusun Lukman Hakim atau kini disebut Luk Rejo Lamongan) dan kota raja Majapahit, yaitu 1. Kaum Muslim yang menguasai pelabuhan dan perdagangan (pribumi, Arab, India dan keturunan campur). 2. Pendatang China suku Tang (juga muslim). 3. Pribumi Jawa Hindu-Budha yang tidak pakai baju, rambut terurai acak-acakan atau di sanggul, berciri wajah jelek (jarang mandi).

Untuk rakyat dan pejabat Majapahit, kaum muslim (pribumi dan pendatang) yang bercirikan pakaian rapi, wajah cerah karena sering wudlu, santun, jujur, pandai (memiliki berbagai keahlian. Karena mereka adalah para insinyur pendatang dari Baghdad dan Andalusia Islam) sangat disegani dan di hormati.

Golongan minoritas ini mendapat posisi yang strategis dalam struktur masyarakat Majapahit, bahkan mendapat jabatan khusus di Trowulan kotaraja.Akhirnya merekapun mendapat fasilitas pemakaman khusus di Troloyo.

Memang pada abad pertengahan tidak lah aneh apabila dalam pemerintah besar yang bukan kesultanan Islam memiliki jendral atau perdana menteri seorang muslim. Seperti pemerintah China, kaisar Yong le yang memiliki Laksamana Cheng Ho yang beragama Islam. Tetapi dalam kasus Majapahit, Gajah Mada sengaja menyembunyikan identitas diri dan keluarganya demi keselamatan nyawanya dari saingan politiknya.

Diduga Gajah Mada menjadi seorang muslim ketika beliau menjadi bhayangkara , atau mungkin beberapa saat sebelum menjadi Maha Patih. Itulah sebabnya, kenapa Gajah Mada memilih bertempat tinggal di luar kompleks kraton.

Tentu agar dia bisa bebas melaksanakan ibadahnya tanpa diketahui pihak istana. Tentu selain itu, juga memfasilitasi massa berhubungan dengan beliau, tanpa mengenal protokoler kasta.

Gajah Mada pun memisahkan antara keyakinan pribadi dengan tugas Negara. Beliau menghargai Gayatri Rajapatni yang beragama Budha, dan atas desakan Mayoritas Masyarakat Hindu Jawa, maka Gayatri diizinkan oleh Gajah Mada untuk di-Hindukan melalui pembuatan patung dan candi.

Akhir Juni 2012, Tim riset “Gajah Mada Bangkit, Nusantara Sukses” yang terdiri dari: Viddy Ad Daery, Sufyan al Jawi, dan Drs. Mat Rais, secara tak terduga menemukan bukti-bukti adanya penduduk minoritas Muslim zaman Majapahit abad 14-15, seperti ketika di temukannya situs Medalem, Modo, Lamongan yang terdiri dari 4 (empat) buah makam Muslim Majapahit yang diduga masih kerabat Gajah Mada. Dan di kawasan ini juga dijumpai penduduk pribumi dengan wajah dan tubuh berpostur Mongoloid.

Sejarah diungkap bukan untuk bernostalgia atau menina bobokan bangsa dalam mimpi yang tidak berakhir. Sejarah adalah langkah pendorong terciptanya semangat baru untuk masa depan.
 
Mengungkap Misteri Keislaman Patih Gajah Mada

Siapa yang tidak tahu nama tokoh ini, semua orang Indonesia tahu nama besar Gajah Mada sang Mahapatih Majapahit, orang pertama yang mempersatukan Nusantara. Tapi sampai saat ini, setelah 7 abad sejak kebesaran namanya berkibar di seantero negeri.

Bukan saja tentang asal-usul dan kematiannya, tentang strategi politik menuju posisi puncak di Majapahit serta strategi perangnya menguasai Nusantara juga masih menyimpan banyak misteri yang tak terjawab hingga kini,bahkan tentang wajahnya juga menjadi salah satu misteri Penemuan terakota pipi tembeb di Trowulan yang disebut-sebut sebagai perwujudan wajah Gajah Mada sampai saat ini juga belum terbukti. Rupa Gajah Mada yang kita kenal sekarang ini juga menjadi polemik dan kontroversi karena sebagian orang menyebut bahwa penggambaran rupa Gajah Mada itu hanya rekaan Moh.Yamin pengarang buku “Gajah Mada Pahlawan Nusantara”. Lihat saja wajah Gajah Mada dan bandingkan dengan wajah Moh.Yamin, sangat mirip. Jadi kemungkinan besar rupa itu hanya rekaan Moh.Yamin yang menjelmakan wajahnya sebagai Gajah Mada. (kompasiana)

Pada tulisan ini tidak membahas tentang wajahnya yang masih misteri tetapi membahas tentang Keislaman Patih Majapahit yaitu :Gajah Mada. dan Tulisan yang akan kami sampaikan merupakan beberapa Tulisan Budayawan dan Arkeolog yang melakukan penelitian terkait hal ini. dan InsyaAllah akan kami sampaikan beberapa bagian

pada bagian awal, kami akan sampaikan tulisan dari Drs Mat Rais yang berjudul :

Budayawan Temukan Situs Kerabat Gajah Mada

Oleh :Drs. Mat Rais

Budayawan Nusantara kelahiran Lamongan, Viddy Ad Daery, yang telah banyak meneliti mengenai Folklor Gajah Mada “versi” Lamongan, dan telah mempresentasikan temuan-temuan itu di beberapa seminar Internasional di Indonesia, Malaysia, Singapura dan Brunei, kini telah menemukan “bukti-bukti baru folklore Modo” berupa situs-situs yang selama ini belum pernah diungkap.

Viddy yang baru-baru ini menjelajahi kembali “wilayah Modo” Lamongan, bersama Sufyan Al-Jawi, arkeolog dari Numismatik Indonesia, menemukan beberapa “situs yang mengejutkan” yang tentunya akan memengaruhi penulisan sejarah Indonesia. “Teori Pak Viddy yang saya baca di www.kompas.com ( mengenai folklore Modo yang menyatakan bahwa Gajah Mada lahir di Modo ) tampaknya akan mendapat dukungan bukti-bukti kuat di lapangan, terutama dari segi arkeologi!” tandas Sufyan Al-Jawi.

Temuan itu, pertama-tama dijumpai di Modo sendiri, antara lain ialah “makam kerabat Gajah Mada” yang diakui kebenarannya oleh Pak Sukardi yang mengaku “masih kerabat Gajah Mada”. Pria yang berwajah dan berpostur Mongoloid  “mirip citra Gajah Mada” itu, menunjuk sekelompok makam kuno yang terdapat di sudut utara kompleks makam Medalem, Modo, Lamongan.

“Menurut cerita kakek-nenek saya, itu makam kerabat dekat Gajah Mada dan para pengikutnya”, tutur Pak Sukardi menunjuk sekelompok makam tua yang terdiri dari empat makam.

Empat makam itu Nampak “lain”, karena tidak nampak sebagai makam-makam “modern” yang lain yang rata-rata diurug tinggi lalu diplester dengan ubin. Empat makam tua itu hanya dikelilingi batu-batu kuno, dan nisan “kuno”nya sudah banyak yang patah, Nampak tidak terurus.

“Nisan makam ini ada yang masih tersisa dan tampak kekunoannya, yaitu berjenis nisan dari peradaban abad ke 15, sebelum munculnya zaman Walisongo”, ujar Sufyan Al-Jawi. “Dicirikan dengan lambang mahkota bunga, dan itu merupakan perpaduan kebudayaan Hindu dan Islam”.

Lebih lanjut Sufyan Al-Jawi menyimpulkan, bahwa “kerabat Gajah Mada” ternyata sudah menganut kepercayaan islam, dengan bukti makamnya menghadap ke arah kiblat, dan nisannya bercitra Islam abad ke 15.

Viddy menyatakan, meskipun makam yang ditemukan bukan atau belum mengarah ke Gajah Mada itu sendiri, namun sudah merupakan bukti kuat bahwa Gajah Mada sangat terkait erat dengan desa Modo, yang pada zaman Majapahit merupakan ibukota Kerajaan Pamotan atau Kahuripan, salah satu vassal Majapahit di sebelah utara yang pernah diperintah oleh Tribhuana Tunggadewi dan Hayam Wuruk ketika dipersiapkan untuk menerima tahta Majapahit.

Rombongan Viddy dan Sufyan Al-Jawi seterusnya mengunjungi situs desa Garang, yang dalam folklore Modo disebut sebagai desa perguruan silat Garangan Putih tempat Gajah Mada muda mempelajari ilmu kanuragan. Kemudian dilanjutkan ke makam Ibunda Gajah Mada alias Dewi Andongsari yang berada di bukit Gunung Ratu, Ngimbang dekat Modo.

Selanjutnya tim ke dusun Badander, Kabuh, Jombang di dekat Sungai Brantas, yang ditengarai sebagai tempat Gajah Mada menyelamatkan Prabu Jayanegara dari kejaran pasukan pemberontak Ra Kuti. Letak Badander dengan Modo, Lamongan, relatif tidak terlalu jauh.

Menggugat Sejarah

Seorang penduduk Badander (Pak Pari) yang diwawancarai oleh tim Viddy-Sufyan, mempertanyakan, “Kenapa buku-buku sejarah di sekolah tidak menulis yang benar? Kenapa ditulis bahwa tempat penyelamatan Prabu Jayanegara di Dander Bojonegoro? Bagi kami terasa aneh! Sebab menurut cerita leluhur-leluhur kami, desa kamilah, yaitu Badander, sebagai tempat penyelamatan Prabu Jayanegara. Menurut cerita leluhur kami, Gajah Mada menitipkan Prabu Jayanegara kepada Buyut Badander atau kepala desa kami saat itu.”

Tim menyusuri bukti-bukti yang dikemukakan oleh Pak Pari dengan mengukur jarak antara pusat Kerajaan Majapahit dengan Badander, Kabuh, dan menyimpulkan bahwa secara logika, letak Badander Kabuh lebih masuk akal menjadi tempat penyelamatan Jayanegara, daripada Dander Bojonegoro yang letaknya terlalu jauh. “Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya tata letak pusat pemerintahan desa yang sekarang adalah bekas lokasi pesanggrahan Buyut Badander seperti yang diceritakan oleh masyarakat setempat, berupa Pager Banon!” simpul Sufyan Al-Jawi.

Menurut Viddy Ad Daery, dalam babad-babad kuno memang ditulis bahwa lokasi desa tempat penyelamatan Prabu Jayanegara oleh Gajah Mada adalah di Badander, bukan Dander. “Dan itu berarti lebih mengarah Badander Kabuh. Bukan Dander Bojonegoro!” kata budayawan yang kini sedang menggarap tesis Ph D itu.

Menurut Sufyan Al-Jawi penelitian ini bertujuan untuk pembuatan buku demi meluruskan sejarah Gajah Mada yang selama ini simpang siur. Sedang bagi Viddy sendiri, di samping untuk memperkuat teorinya, juga untuk bahan penulisan serial novelnya “Pendekar Sendang Drajat Misteri Gajah Mada Islam”

Legenda Patih Gajah Mada, wafat di Kota Suci Makkah?

Ustadz Emdeka Saka Guru berkesempatan mengunjungi makam Raja Islam Sela Parang.
Sang Raja merupakan seorang pendakwah Islam pada periode awal, sekitar abad XIV M di Pulau lombok. Yang tidak terduga di komplek makam itu, terdapat petilasan.


Petilasan ini, menurut tutur kata dari generasi ke generasi setempat, di yakini sebagai lokasi keberangkatan Sang Maha Patih Gajah Mada ketika hendak pergi haji menuju Makkah.

Penduduk wilayah ini percaya, Patih Gajah Mada setelah masuk Islam dan lengser keprabon berganti nama menjadi Muhammad Rum. Dan menurut Babad Sela Parang, Gajah Mada tidak pernah kembali, karena beliau wafat di kota suci Makkah.

Wallahu a’lamu bish shawab

Catatan Penambahan :
1. Kedatangan Gajah Mada ke Lombok, tercatat pada prasasti Bencangah Punan (tahun 1357 M) yang ditulis dalam aksara Jejawan (Sumber : opiniartikel.kampung-media.com)
2. Makam Selaparang berada di Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat, tepatnya di kecamatan Swela sekitar 65 km dari kota Mataram (Sumber : lombok.panduanwisata.id)

6 Misteri Leluhur Bangsa Jawa

Di dalam Mitologi Jawa diceritakan bahwa salah satu leluhur Bangsa Sunda (Jawa) adalah Batara Brahma atau Sri Maharaja Sunda, yang bermukim di Gunung Mahera.

Selain itu, nama Batara Brahma, juga terdapat di dalam Silsilah Babad Tanah Jawi. Di dalam Silsilah itu, bermula dari Nabi Adam yang berputera Nabi Syits, kemudian Nabi Syits menurunkan Sang Hyang Nur Cahya, yang menurunkan Sang Hyang Nur Rasa. Sang Hyang Nur Rasa kemudian menurunkan Sang Hyang Wenang, yang menurunkan Sang Hyang Tunggal. Dan Sang Hyang Tunggal, kemudian menurunkan Batara Guru, yang menurunkan Batara Brahma.

Berdasarkan pemahaman dari naskah-naskah kuno bangsa Jawa, Batara Brahma merupakan leluhur dari raja-raja di tanah Jawa.


Bani Jawi Keturunan Nabi Ibrahim


Di dalam Kitab ‘al-Kamil fi al-Tarikh‘ tulisan Ibnu Athir, menyatakan bahwa Bani Jawi (yang di dalamnya termasuk Bangsa Sunda, Jawa, Melayu Sumatera, Bugis, dsb), adalah keturunan Nabi Ibrahim.

Bani Jawi sebagai keturunan Nabi Ibrahim, semakin nyata, ketika baru-baru ini, dari penelitian seorang Profesor Universiti Kebangsaaan Malaysia (UKM), diperoleh data bahwa, di dalam darah DNA Melayu, terdapat 27% Variant Mediterranaen (merupakan DNA bangsa-bangsa Euro-Semitik).

Variant Mediterranaen sendiri terdapat juga di dalam DNA keturunan Nabi Ibrahim yang lain, seperti pada bangsa Arab dan Bani Israil.

Sekilas dari beberapa pernyataan di atas, sepertinya terdapat perbedaan yang sangat mendasar. Akan tetapi, setelah melalui penyelusuran yang lebih mendalam, diperoleh fakta, bahwa Brahma yang terdapat di dalam Metologi Jawa indentik dengan Nabi Ibrahim.


Brahma adalah Nabi Ibrahim

Mitos atau Legenda, terkadang merupakan peristiwa sejarah. Akan tetapi, peristiwa tersebut menjadi kabur, ketika kejadiannya di lebih-lebihkan dari kenyataan yang ada.

Mitos Brahma sebagai leluhur bangsa-bangsa di Nusantara, bisa jadi merupakan peristiwa sejarah, yakni mengenai kedatangan Nabi Ibrahim untuk berdakwah, dimana kemudian beliau beristeri Siti Qanturah (Qatura/Keturah), yang kelak akan menjadi leluhur Bani Jawi (Melayu Deutro).

Dan kita telah sama pahami bahwa, Nabi Ibrahim berasal dari bangsa ‘Ibriyah, kata ‘Ibriyah berasal dari ‘ain, ba, ra atau ‘abara yang berarti menyeberang. Nama Ibra-him (alif ba ra-ha ya mim), merupakan asal dari nama Brahma (ba ra-ha mim).

Beberapa fakta yang menunjukkan bahwa Brahma yang terdapat di dalam Mitologi Jawa adalah Nabi Ibrahim, di antaranya :

1. Nabi Ibrahim memiliki isteri bernama Sara, sementara Brahma pasangannya bernama Saraswati.

2. Nabi Ibrahim hampir mengorbankan anak sulungnya yang bernama Ismail, sementara Brahma terhadap anak sulungnya yang bernama Atharva  (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali).

3. Brahma adalah perlambang Monotheisme, yaitu keyakinan kepada Tuhan Yang Esa (Brahman), sementara Nabi Ibrahim adalah Rasul yang mengajarkan ke-ESA-an ALLAH.

Ajaran Monotheisme di dalam Kitab Veda, antara lain :

Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan, Dia tidak pernah dilahirkan, Dia yg berhak disembah

Yajurveda Ch. 40 V. 8 menyatakan bahwa Tuhan tidak berbentuk dan dia suci

Atharvaveda Bk. 20 Hymn 58 V. 3 menyatakan bahwa sungguh Tuhan itu Maha Besar

Yajurveda Ch. 32 V. 3 menyatakan bahwa tidak ada rupa bagi Tuhan

Rigveda Bk. 1 Hymn 1 V. 1 menyebutkan : kami tidak menyembah kecuali Tuhan yang satu

Rigveda Bk. 6 Hymn 45 V. 6 menyebutkan “sembahlah Dia saja, Tuhan yang sesungguhnya”

Dalam Brahama Sutra disebutkan : “Hanya ada satu Tuhan, tidak ada yang kedua. Tuhan tidak berbilang sama sekali”.

Sumber : http://rkhblog.wordpress.com/2007/09/10/hindu-dan-islam-ternyata-sama/

Ajaran Monotheisme di dalam Veda, pada mulanya berasal dari Brahma (Nabi Ibrahim). Jadi makna awal dari Brahma bukanlah Pencipta, melainkan pembawa ajaran dari yang Maha Pencipta.

4. Nabi Ibrahim mendirikan Baitullah (Ka’bah) di Bakkah (Makkah), sementara Brahma membangun rumah Tuhan, agar Tuhan di ingat di sana (Muhammad in Parsi, Hindoo and Buddhist, tulisan A.H. Vidyarthi dan U. Ali).

Bahkan secara rinci, kitab Veda menceritakan tentang bangunan tersebut :

Tempat kediaman malaikat ini, mempunyai delapan putaran dan sembilan pintu… (Atharva Veda 10:2:31)

Kitab Veda memberi gambaran sebenarnya tentang Ka’bah yang didirikan Nabi Ibrahim.

Makna delapan putaran adalah delapan garis alami yang mengitari wilayah Bakkah, diantara perbukitan, yaitu Jabl Khalij, Jabl Kaikan, Jabl Hindi, Jabl Lala, Jabl Kada, Jabl Hadida, Jabl Abi Qabes dan Jabl Umar.

Sementara sembilan pintu terdiri dari : Bab Ibrahim, Bab al Vida, Bab al Safa, Bab Ali, Bab Abbas, Bab al Nabi, Bab al Salam, Bab al Ziarat dan Bab al Haram.


Monotheisme Ibrahim

Peninggalan Nabi Ibrahim, sebagai Rasul pembawa ajaran Monotheisme, jejaknya masih dapat terlihat pada keyakinan suku Jawa, yang merupakan suku terbesar dari Bani Jawi.

Suku Jawa sudah sejak dahulu, mereka menganut monotheisme, seperti keyakinan adanya Sang Hyang Widhi atau Sangkan Paraning Dumadi.

Selain suku Jawa, pemahaman monotheisme juga terdapat di dalam masyarakat Sunda Kuno. Hal ini bisa kita jumpai pada Keyakinan Sunda Wiwitan. Mereka meyakini adanya ‘Allah Yang Maha Kuasa‘, yang dilambangkan dengan ucapan bahasa ‘Nu Ngersakeun‘ atau disebut juga ‘Sang Hyang Keresa‘.

Dengan demikian, adalah sangat wajar jika kemudian mayoritas Bani Jawi (khususnya masyarakat Jawa) menerima Islam sebagai keyakinannya. Meskipun masih tercampur didalamnya.

"...dan (ingatlah) di waktu Ibrahim berkata kepada bapaknya, Azar, "Pantaskah kamu menjadikan berhala-berhala sebagai tuhan-tuhan? Sesungguhnya aku melihat kamu dan kaum-mu dalam kesesatan yang nyata." (QS. Al-An'am 6:74)
 
Karena pada hakekatnya, Islam adalah penyempurna dari ajaran Monotheisme (Tauhid) yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW bagi keturunan Nabi Ibrahim a.s.

Insha Allah...

4 Pulau Jawakah, Asal Bahtera Nuh Itu?

Sejak Nabi Nur kapal laut sudah ditemukan, dan merupakan kapal laut terbesar sebelum abad ke-20. Kapal ini terbuat dari kayu gofir, dengan ukuran 450 kaki keseluruhannya, lebar 75 kaki dan tinggi 45 kaki dengan tiga geladak di dalam. Sebuah “jendela” dibuat di bagian atas (Kejadian 6:14-16). Bentuk kapal laut ini mirip dengan kapal-kapal besar sekararng.

TANAH JAWA NEGERI PARA NABI 

Penemuan Bahtera Nuh
Penelitian para arkeolog dari Turki dan China menyebutkan, bahwa kayu yang digunakan untuk membuat kapal Nabi Nuh Alaihi Salam (AS) merupakan kayu jati purba yang berasal dari Pulau Jawa. Bagaimana sejarahnya?

Seperti dikisahkan dalam kitab suci tiga agama Islam, Kristen, dan Yahudi, sekitar 4.800 tahun lalu, dunia dilanda bencana maha dahsyat untuk menyadarkan umat manusia: banjir raksasa. Yaitu pada zaman Nabi Nuh A.S (menurut Islam). Dimana Nabi Nuh mendapat wahyu/perintah dari Allah untuk membuat sebuah kapal raksasa untuk menyelamatkan diri dan orang-orang yang beriman serta binatang-binatang.

Sejak adanya klaim ditemukannya situs kapal Nabi Nuh A.S oleh Angkatan Udara Amerika serikat, tahun 1949, yang menemukan benda mirip kapal di atas Gunung Ararat-Turki dari ketinggian 14.000 feet (sekitar 4.600 M). Dan di muat dalam berita Life Magazine pada 1960, saat pesawat Tentara Nasional Turki menangkap gambar sebuah benda mirip kapal yang panjangnya sekitar 150 M. Penelitian dan pemberitaan tentang dugaan kapal Nabi Nuh AS (The Noah’s Ark) terus berlanjut hingga kini.

Seri pemotretan oleh penerbang Amerika Serikat, Ikonos pada 1999-2000 tentang adanya dugaan kapal di Gunung Ararat yang tertutup salju, menambah bukti yang memperkuat dugaan kapal Nabi Nuh A.S itu. Kini ada penelitan terbaru tentang dari mana kapal Nabi Nuh AS itu berangkat. Atau di mana kapal Nabi Nuh AS itu dibuat?

Baru-baru ini, gabungan peneliti arkeolog-antropolgy dari dua negara, China dan Turki, beranggotakan 15 orang, yang juga membuat film dokumenter tentang situs kapal Nabi Nuh A.S itu, menemukan bukti baru. Mereka mengumpulkan artefak dan fosil-fosil berupa; serpihan kayu kapal, tambang dan paku.

Hasil Laboratorium Noah’s Ark Minesteries International, China-Turki, setelah melakukan serangkaian uji materi fosil kayu oleh tim ahli tanaman purba, menunjukan bukti yang mengejutkan, bahwa fosil kayu Kapal Nabi Nuh A.S berasal dari kayu jati yang ada di Pulau Jawa.

Mereka telah meneliti ratusan sample kayu purba dari berbagai negara, dan memastikan, bahwa fosil kayu jati yang berasal dari daerah Jawa Timur dan Jawa Tengah 100% cocok dengan sample fosil kayu Kapal Nabi Nuh AS. Sebagaimana diungkap oleh Yeung Wing, pembuat film documenter The Noah’s Ark, saat melakukan konfrensi pers di Hongkong, Senin (26/4/2010) yang lalu.

“Saya meyakini 99 persen, bahwa situs kapal di Gunung Ararat, Turki adalah merupakan fosil Kapal Nuh yang ribuan tahun lalu terdampar di puncak gunung itu, setelah banjir besar menenggelamkan dunia dalam peristiwa mencairnya gleser di kedua kutub” Jelas Yeung Wing

Dr. Mehmet Salih Bayraktutan PhD, yang sejak 20 Juni 1987 turut meneliti dan mempopulerkan situs Kapal Nabi Nuh AS, mengatakan, "Perahu ini adalah struktur yang dibuat oleh tangan manusia.”

Dalam artikelnya juga mengatakan, lokasinya di Gunung Judi (Ararat) yang disebut dalam Al Qur’an, Surat Huud ayat 44.
وَقِيلَ يَٰٓأَرْضُ ٱبْلَعِى مَآءَكِ وَيَٰسَمَآءُ أَقْلِعِى وَغِيضَ ٱلْمَآءُ وَقُضِىَ ٱلْأَمْرُ وَٱسْتَوَتْ عَلَى ٱلْجُودِىِّ ۖ وَقِيلَ بُعْدًۭا لِّلْقَوْمِ ٱلظَّٰلِمِينَ

"Hai bumi telanlah airmu, dan hai langit (hujan) berhentilah," dan airpun disurutkan, perintahpun diselesaikan dan bahtera itupun berlabuh di atas bukit Judi, dan dikatakan: "Binasalah orang-orang yang zalim ." Ya'ni: Allah telah melaksanakan janjinya dengan membinasakan orang-orang yang kafir kepada Nabi Nuh a.s. dan menyelamatkan orang-orang yang beriman. Bukit "Judi" terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia."(Q.S Huud:44).
Sedangkan dalam injil: Perahu itu terdampar diatas Gunung Ararat (Genesis 8 : 4).

Menurut peneliti The Noah’s Ark, kapal dibuat di puncak gunung oleh Nabi Nuh AS, tak jauh dari desanya. Lalu berlayar ke antah berantah, saat dunia ditenggelamkan oleh banjir besar.

Berbulan-bulan kemudian, kapal Nabi Nuh AS merapat ke sebuah daratan asing. Ketika air berangsur surut, maka tersibaklah bahwa mereka terdampar di puncak sebuah gunung.

Bila fosil kayu kapal itu menunjukan berasal dari kayu jati, dan itu hanya tumbuh di Indonesia pada zaman purba, boleh jadi Nabi Nuh AS dan umatnya dahulu tinggal di sana.

Saat ini, kita dapat saksikan dengan satelit, bahwa gugusan ribuan pulau itu (Nusantara), dahulu merupakan daratan yang luas.


Sedangkan, Dr Bill Shea, seorang antropolog, menemukan pecahan-pecahan tembikar sekitar 18 meter dari situs kapal Nabi Nuh AS. Tembikar ini memiliki ukiran-ukiran burung, ikan, dan orang yang memegang palu dengan memakai hiasan kepala bertuliskan Nuh.

Dia menjelaskan, pada zaman kuno, barang-barang tersebut dibuat oleh penduduk lokal di desa itu untuk dijual kepada para peziarah situs kapal. “Sejak zaman kuno hingga saat ini, fosil kapal tersebut telah menjadi lokasi wisata,” ujar Bill Shea. 


Dari Kayu Apakah Bahtera Nuh?
Kitab Kejadian 6:14: "Buatlah bagimu sebuah bahtera dari kayu GOFIR; bahtera itu harus kau buat berpetak-petak dan harus kaututup dengan pakal dari luar dan dari dalam". Kayu gofir" hanya disebut satu kali di dalam Alkitab (Kej. 6:14).

Termasuk dalam salah satu mitos tentang bahtera Nuh adalah bahwa tidak ada yang tahu, kayu gofir itu kayu apa. Para ahli hanya menduga bahwa itu adalah: kayu Jati, Pinus atau Cypress (semacam cemara), atau cedar.  Beberapa ahli berpendapat bahwa istilah ini merupakan bacaan pengganti untuk kata Ibrani KOPHER, yang berarti TER atau DAMAR.

Kayu Jati  


Pada masa lalu, jati sempat dianggap sebagai jenis asing yang dimasukkan (diintroduksi) ke Jawa; ditanam oleh orang-orang Hindu ribuan tahun yang lalu. Menurut T.Altona, penanaman jati yang pertama dilakukan oleh orang hindu yang datang ke Jawa. Sehingga terkesan, jati didatangkan oleh orang hindu atau negeri hindulah tempat asli dari jati. Pendapat ini diperkuat oleh seorang ahli botani, Charceus yang mengatakan bahwa jati di Pulau Jawa berasal dari India yang dibawa sejak tahun 1500 SM sampai abad ke- 7 Masehi. Kontroversi ini kemudian terjawab dengan penelitian marker genetik menggunakan teknik isoenzyme/pengujian variasi isozyme yang dilakukan oleh Kertadikara pada tahun 1994. Hasil penelitiannya menunjukan bahwa jati yang tumbuh di INDONESIA (JAWA) merupakan JATI ASELI. JATI JAWA telah berevolusi sejak puluhan hingga ratusan ribu tahun yang silam (Mahfudz dkk., t.t. ). (sumber: https://id.wikipedia.org/wiki/Jati)

Kayu Damar


Damar (Wikipedia) = http://id.wikipedia.org/wiki/Damar_(pohon)

Pohon damar (Agathis dammara (Lamb.) Rich.) adalah sejenis pohon anggota tumbuhan runjung (Gymnospermae) yang merupakan tumbuhan ASLI INDONESIA. Damar menyebar di Maluku, Sulawesi, hingga ke Filipina (Palawan dan Samar). Di Jawa, tumbuhan ini dibudidayakan untuk diambil getah atau hars-nya. Damar tumbuh secara alami di hutan hujan dataran rendah sampai ketinggian sekitar 1.200 m dpl. Namun di JAWA, tumbuhan ini terutama ditanam di PEGUNUNGAN

Kayu damar termasuk kayu yang mudah digergaji dan dikerjakan, apabila diserut menimbulkan permukaan yang licin dan mengkilap. Kayu damar dapat divernis dan setelah didempul dapat dipelitur sampai mengkilap. KKayu damar banyak digunakan sebagai bahan bangunan dibawah atap, perabot rumah tangga, BANGUNAN KAPAL (TIANG LAYAR), panel, barang bubutan (Sumber: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/25072/4/Chapter%20II.pdf)

Getah tersebut biasa digunakan untuk cat, vernis spiritus, plastik, bahan sizing, pelapis tekstil, bahan WATER PROOFING (bahan anti air, sangat diperlukan untuk melapisi kayu kapal)

Beberapa kesimpulan yang kita peroleh :
- Gofir adalah kayu asli Indonesia
- Bahtera Nuh dibuat di atas gunung, dimana bahan utamanya adalah damar yang tumbuh di gunung, ini bisa kita temui hanya di JAWA, bukan lokasi lain di Indonesia

- Dan gunung yang paling memenuhi kriteria sebagai asal bahtera Nuh adalah Pulau Jawa, karena hingga kini Tuhan masih memelihara tanda-tandanya, yaitu:

- Kaya akan keanekaragaman hayati. Nuh tak mungkin dalam waktu singkat dan jumlah orang yang sedikit, yaitu dikatakan hanya 70 orang yang beriman, mengumpulkan ragam flora dan fauna dari tempat-tempat yang berjauhan.

- Hal ini diperkuat fakta bahwa Pulau Jawa memang terkenal kaya akan berbagai jenis burung yaitu sebanyak 251 jenis dari 450 jenis yang terdapat di Pulau Jawa, yaitu Gunung Gede. Beberapa jenis di antaranya merupakan burung langka yaitu elang Jawa (Spizaetus bartelsi) dan celepuk jawa (Otus angelinae).  Bahkan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir pada tahun 1977. Gunung Gede memiliki keanekaragaman ekosistem yang terdiri dari formasi-formasi hutan submontana, montana, subalpin; serta ekosistem danau, rawa, dan savana. Apa perlunya aneka ragam ekosistem ini? Karena contoh flora dan fauna yang dibawa bahtera ini nantinya akan dikembangbiakkan di beragam ekosistem yang berbeda setelah banjir mereda. Ini memang misi Nuh untuk mengembalikan bumi sebagaimana semula.

Salah satu keunikan Gunung Gede yang sangat jarang dimiliki oleh Gunung lainnya adalah adanya lapangan seluas 50 Ha di ketinggian 2.750 meter. Tanah datar luas yang tertutupi oleh hamparan bunga Edelweiss ini disebut sebagai Alun-alun Suryakencana. Nuh butuh dataran ini untuk digunakan sebagai galangan kapal dalam proses membangun bahtera besarnya. Disini pulalah dibangun semacam taman mini tempat pengumpulan sementara ragam spesies hewan dan aneka flora sebelum dinaikkan ke bahtera. Sungguh mustahil Nuh membangun bahtera besar di sebuah gunung yang mempunyai lereng yang curam.(Sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Gunung_Gede).

Tradisi Agama Karuhun (hyang) Megalitik Di Nusantara
Nusantara adalah rumah bagi banyak situs megalitik bangsa Austronesia pada masa lalu hingga masa kini. Beberapa struktur megalitik telah ditemukan, misalnya menhir, dolmen, meja batu, patung nenek moyang, dan piramida berundak yang lazim disebut Punden Berundak. Struktur megalitik ini ditemukan di JAWA, Sumatera, Sulawesi, dan Kepulauan Sunda Kecil.

Punden berundak dan menhir ditemukan di situs megalitik di Pagguyangan, Cisolok dan Gunung Padang, Jawa Barat. Situs megalitik Cipari yang juga ditemukan di Jawa Barat menunjukkan struktur monolit, teras batu, dan sarkofagus. 

Situs Gunung padang diperkirakan adalah tempat pemujaan bagi masyarakat yang bermukim di sana pada sekitar 2000 tahun SM. Hasil penelitian Rolan Mauludy dan Hokky Situngkir menunjukkan kemungkinan adanya pelibatan musik dari beberapa batu megalit yang ada. Selain Gunungpadang, terdapat beberapa tapak lain di Cianjur yang merupakan peninggalan periode megalitikum. Menurut legenda, Situs Gunung Padang merupakan tempat pertemuan berkala (kemungkinan tahunan) semua ketua adat dari masyarakat Sunda Kuno. Saat ini situs ini juga masih dipakai oleh kelompok penganut agama asli Sunda untuk melakukan pemujaan.

Mungkinkah Hal Ini Benar?
Nabi Nuh hidup sekitar 3993-3043 SM adalah seorang rasul yang diceritakan dalam Taurat, Alkitab, dan Al-Qur'an. Nuh diangkat menjadi nabi sekitar tahun 3650 SM. Diperkirakan ia tinggal di wilayah Selatan Irak modern. Namanya disebutkan sebanyak 58 kali dalam 48 ayat dalam 9 buku Alkitab Terjemahan Baru, dan 43 kali dalam Al-Qur'an.

Menurut Al-Qur'an, ia memiliki 4 anak laki-laki yaitu Kanʻān, Sem, Ham, dan Yafet. Namun Alkitab hanya mencatat, ia memiliki 3 anak laki-laki Sem, Ham, dan Yafet. Kitab Kejadian mencatat, pada jamannya terjadi air bah yang menutupi seluruh bumi; hanya ia sekeluarga (istrinya, ketiga anaknya, dan ketiga menantunya) dan binatang-binatang yang ada di dalam bahtera Nuh yang selamat dari air bah tersebut. Setelah air bah reda, keluarga Nuh kembali me-repopulasi bumi.

Kaum Nabi Nuh Yang Ingkar
Berlalulah beberapa tahun dari kematian Nabi Adam. Banyak hal berubah di muka bumi. Dan bertepatan dengan fitrah manusia itu sendiri, terjadilah kealpaan terhadap wasiat Nabi Adam. Kesalahan yang dahulu kembali berulang. Seperti mana tika Nabi Adam dan Hawa melupakan ketetapan tuhan untuk menjauhi pohon didalam syurga, seperti itulah manusia melupakan ajaran ilahi yang dilangsungkan dimuka bumi selepas turun dari syurga.

Sebelum lahirnya kaum Nabi Nuh, telah hidup lima orang saleh dari datuk-datuk kaum Nabi Nuh. Mereka hidup selama beberapa zaman kemudian mereka mati. Nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

"Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr". (QS. Nuh ayat 23)

Setelah kematian mereka, orang-orang membuat patung-patung dari mereka, dalam rangka menghormati mereka dan sebagai peringatan terhadap mereka. Kemudian berlalulah waktu, lalu orang-orang yang memahat patung itu mati. Lalu datanglah anak-anak mereka, kemudian anak-anak itu mati, dan datanglah cucu- cucu mereka. Kemudian timbullah berbagai dongeng dan khurafat yang membelenggu akal manusia di mana disebutkan bahawa patung-patung itu memiliki kekuatan khusus.

Dalam situasi seperti ini, Allah SWT mengutus Nuh a.s untuk membawa ajaran illahi kepada kaumnya. Nabi Nuh adalah seorang hamba yang akalnya tidak terpengaruh oleh keadaan sekeliling, yang menyembah selain Allah SWT. Allah SWT memilih hamba-Nya Nuh dan mengutusnya di tengah-tengah kaumnya.


Kembalinya Keturunan Nabi Nuh setelah Banjir Besar
Keturunan Nabi Nuh a.s. itu bukanlah turun pada satu tempat akan tetapi berpisah ditiap-tiap daratan karena itulah Nabi Nuh berwasiat.

Apakah itu wasiat Nabi Nuh a.s? Wasiat Nuh adalah kata-kata kepada keturunanya supaya kembali Semula Ke "Tanah Asal Mereka"  yaitu Pentas Sunda (Sundaland) yang tenggelam itu, karena merupakan tanah asal keturunan Nabi Nuh a.s dalam pengembaraannya.

Dalam adat budaya sunda tempat bermula pengembaraaan ini tercatat dalam syair lagu Sunda guguritan baheula sebagai berikut: 
Gunung Gede siga nu nande, nandean ka badan abdi
Gunung Pangrango ngadago, ngadagoan abdi wangsul
nya wangsul ti pangumbaraan, kebo mulih pakandangan
nya mulang labuh ka puhu, pulangkeun ka Padjadjaran

artinya adalah kurang lebih sebagai berikut:

Gunung Gede seperti mewadahi, mewadahi tubuh ini
Gunung Pangrango menanti, menanti aku kembali
menanti kembali dari pengembaraan, kerbau selalu pulang ke kandangnya
ya pulang kembali ke asal, kembali ke Padjadjaran
Pulau Jawa Tempat Asal Tempat Nabi Nuh?

Kalau menurut saya sangat mungkin, karena sejatinya pada awalnya daratan di bumi ini adalah sebuah satu-kesatuan, yang lama kelamaan terpisah akibat gerakan kerak bumi.

Sebagaimana disebutkan di dalam Al-Qur'an: “Dan kamu lihat gunung-gunung itu, kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan.” (QS 27:88)

14 abad lampau seluruh manusia menyangka gunung itu diam tidak bergerak. Namun dalam Al Qur’an disebutkan gunung itu bergerak. Dan itu diikuti juga oleh daratan lainnya.

gunung-gunung ini disebabkan oleh gerakan kerak bumi tempat mereka berada. Kerak bumi ini seperti mengapung di atas lapisan magma yang lebih rapat. Pada awal abad ke-20, untuk pertama kalinya dalam sejarah, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mengemukakan bahwa benua-benua pada permukaan bumi menyatu pada masa-masa awal bumi, namun kemudian bergeser ke arah yang berbeda-beda sehingga terpisah ketika mereka bergerak saling menjauhi.

Para ahli geologi memahami kebenaran pernyataan Wegener baru pada tahun 1980, yakni 50 tahun setelah kematiannya. Sebagaimana pernah dikemukakan oleh Wegener dalam sebuah tulisan yang terbit tahun 1915, sekitar 500 juta tahun lalu seluruh tanah daratan yang ada di permukaan bumi awalnya adalah satu kesatuan yang dinamakan Pangaea. Daratan ini terletak di kutub selatan.

Sekitar 180 juta tahun lalu, Pangaea terbelah menjadi dua bagian yang masing-masingnya bergerak ke arah yang berbeda. Salah satu daratan atau benua raksasa ini adalah Gondwana, yang meliputi Afrika, Australia, Antartika dan India. Benua raksasa kedua adalah Laurasia, yang terdiri dari Eropa, Amerika Utara dan Asia, kecuali India. Selama 150 tahun setelah pemisahan ini, Gondwana dan Laurasia terbagi menjadi daratan-daratan yang lebih kecil.

Benua-benua yang terbentuk menyusul terbelahnya Pangaea telah bergerak pada permukaan Bumi secara terus-menerus sejauh beberapa sentimeter per tahun. Peristiwa ini juga menyebabkan perubahan perbandingan luas antara wilayah daratan dan lautan di Bumi.

Pergerakan kerak Bumi ini diketemukan setelah penelitian geologi yang dilakukan di awal abad ke-20. Para ilmuwan menjelaskan peristiwa ini sebagaimana berikut:

Kerak dan bagian terluar dari magma, dengan ketebalan sekitar 100 km, terbagi atas lapisan-lapisan yang disebut lempengan. Terdapat enam lempengan utama, dan beberapa lempengan kecil. Menurut teori yang disebut lempeng tektonik, lempengan-lempengan ini bergerak pada permukaan bumi, membawa benua dan dasar lautan bersamanya. Pergerakan benua telah diukur dan berkecepatan 1 hingga 5 cm per tahun. Lempengan-lempengan tersebut terus-menerus bergerak, dan menghasilkan perubahan pada geografi bumi secara perlahan. Setiap tahun, misalnya, Samudera Atlantic menjadi sedikit lebih lebar. (Carolyn Sheets, Robert Gardner, Samuel F. Howe; General Science, Allyn and Bacon Inc. Newton, Massachusetts, 1985, s. 30)

Ada hal sangat penting yang perlu dikemukakan di sini: dalam ayat tersebut Allah telah menyebut tentang gerakan gunung sebagaimana mengapungnya perjalanan awan. (Kini, Ilmuwan modern juga menggunakan istilah “continental drift” atau “gerakan mengapung dari benua” untuk gerakan ini. (National Geographic Society, Powers of Nature, Washington D.C., 1978, s.12-13)

Tidak dipertanyakan lagi, adalah salah satu kejaiban Al Qur’an bahwa fakta ilmiah ini, yang baru-baru saja ditemukan oleh para ilmuwan, telah dinyatakan dalam Al Qur’an.

“Dan Kami telah meniupkan angin untuk mengawinkan dan Kami turunkan hujan dari langit lalu Kami beri minum kamu dengan air itu dan sekali kali bukanlah kamu yang menyimpannya.” (Al Qur’an, 15:22)

Dan sekali lagi saya harus mengatakan bahwa "Al Qur'an itu Benar...."

Dari paparan diatas, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan kapal Nabi Nuh A.S itu berasal dari Jawa itu sangatlah mungkin. Tapi kembali lagi, semua ini hanyalah sebuah pemikiran dari manusia yang tidak sempurna, hanya Allah-lah yang Maha Mengetahui. 

Tapi setidaknya dengan penemuan-penemuan ini, saya menjadi sadar kalau saya harus bangga jadi Orang JAWA, bangga jadi orang INDONESIA, dan bersyukur jadi orang ISLAM.

5 Misteri Tanah Awal Para Nabi

Artikel ini mencoba menguraikan mengenai bangsa-bangsa awal dunia, para Nabi terawal serta kaitannya dengan tanah Nusantara yang bertuah ini maka saya persembahkan satu artikel berbentuk HIPOTESIS untuk kita sama-sama memikirkan kebenaran disebaliknya. Dalam artikel ini kita akan mengembara di zaman yang paling jauh yang tak pernah saya pergi sebelum ini. Saya akan bawa anda ke zaman dimana manusia pertama bertapak dibumi. Ya, zaman Nabi Allah Adam a.s bersama isterinya Hawa serta anak-anak mereka setelah baginda dikeluarkan dari Surga al Jannah.

Sebenarnya para pembaca sekalian, persoalan ini telah membelengu pemikiran saya sejak beberapa tahun yang lalu. Namun hanya sekarang baru saya mampu untuk merangkaikanya setelah membaca dan mengkaji dari pelbagai sudut termasuklah dari sudut Agama. Apakah persoalan tersebut? Ini adalah mengenai teori yang menyatakan bahwa Nabi Adam itu diturunkan oleh Allah di tanah Nusantara. Saya percaya diantara pembaca sekalian mengetahui melalui bacaan atau mendengarnya dari sumber lainnya tentang "Misteri Tanah Awal Para Nabi" ini. Namun bagi saya jika saya tidak mengkajinya sendiri, niscaya  tidak akan puas hati dengan bacaan yang saya baca. Sebab itulah saya mencoba membuat sedikit penulisan dan berbagai rujukan mengenai teori tersebut. Oleh itu mari kita hayati kisah manusia pertama ini dahulu, ADAM.

Adam hidup selama 930 tahun setelah penciptaan (sekitar 3760-2830 SM), sedangkan Hawa lahir ketika Adam berusia 130 tahun. Al-Quran memuat kisah Adam dalam beberapa surat, di antaranya Al-Baqarah 2 :30-38 dan Al-A’raaf 7 :11-25.

Menurut ajaran agama Abrahamik, anak-anak Adam dan Hawa dilahirkan secara kembar, yaitu, setiap bayi lelaki dilahirkan bersamaan dengan seorang bayi perempuan. Adam menikahkan anak lelakinya dengan anak gadisnya yang tidak sekembar dengannya.

Menurut Ibnu Humayd, Ibnu Ishaq, dan Salamah, anak-anak Adam adalah Qabil dan Iqlima, Habil dan Labuda, Sith dan Azura, Ashut dan saudara perempuannya, Ayad dan saudara perempuannya, Balagh dan saudara perempuannya, Athati dan saudara perempuannya, Tawbah dan saudara perempuannya, Darabi dan saudara perempuannya, Hadaz dan saudara perempuannya, Yahus dan saudara perempuannya, Sandal dan saudara perempuannya, dan Baraq dan saudara perempuannya. Total keseluruhan anak Adam sejumlah 40.

Menurut hadits Muhammad yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Adam memiliki postur badan dengan ketinggian 60 hasta (kurang lebih 27,432 meter).

Diriwayatkan dari Abu Huraira, Nabi berkata: “Allah menciptakan Adam dan tingginya 60 kubit. Kemudian Ia berkata, ‘Pergilah dan berilah salam kepada para malaikat dan dengarkanlah bagaimana mereka memberi salam kepadamu, karena itu akan menjadi salam bagimu dan salam bagi keturunanmu’. Ia berkata, `Al-salaamu `alaykum (damai besertamu).’ Mereka berkata, `Al-salaamu `alaykum wa rahmat-Allaah (damai ada atasmu dan kemurahan Allah).’ Maka mereka menambahkan kata-kata `wa rahmat Allaah.’ Dan setiap orang yang memasuki firdaus akan memasukinya dalam bentuk/wujud Adam. Orang senantiasa menjadi semakin pendek hingga sekarang”

Hadits mengenai ini pula ditemukan dalam riwayat Imam Muslim dan Imam Ahmad, namun dalam sanad yang berbeda.

Sosok Adam digambarkan sangat beradab sekali, memiliki ilmu yang tinggi dan ia bukan makhluk purba. Ia berasal dari surga yang berperadaban maju. Turun ke muka bumi bisa sebagai makhluk asing dari sebuah peradaban yang jauh lebih maju dan cerdas, dari peradaban di bumi sampai kapanpun, oleh karena itulah Allah menunjuknya sebagai khalifah (pemimpin) di muka bumi.

Dalam gambarannya ia adalah makhluk yang teramat cerdas, sangat dimuliakan oleh Allah, memiliki kelebihan yang sempurna dibandingkan makhluk yang lain sebelumnya dan diciptakan dalam bentuk yang terbaik. Sesuai dengan Surah Al Israa' 70, yang berbunyi:

"...dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan."

Dalam surah At-Tiin ayat 4 yang berbunyi: "Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya." (QS. At-Tin 95:4)

Menurut riwayat di dalam Al-Qur'an, ketika Nabi Adam as baru selesai diciptakan oleh Allah, seluruh malaikat bersujud kepadanya atas perintah Allah, lantaran kemuliaan dan kecerdasannya itu, menjadikannya makhluk yang punya derajat amat tinggi di tengah makhluk yang pernah ada. Sama sekali berbeda jauh dari gambaran manusia purba menurut Charles Darwin, yang digambarkan berjalan dengan dua kaki dan menjadi makhluk purba berpakaian seadanya.

Mengenai penciptaan Adam sebagai khalifah di muka bumi diungkapkan dalam Al-Qur'an: "...dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat; “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi”. Mereka bertanya (tentang hikmat ketetapan Tuhan itu dengan berkata): “Adakah Engkau (Ya Tuhan kami) hendak menjadikan di bumi itu orang yang akan membuat bencana dan menumpahkan darah (berbunuh-bunuhan), padahal Kami senantiasa bertasbih dengan memuji-Mu dan mensucikan-Mu?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui akan apa yang kamu tidak mengetahuinya."(QS. Al-Baqarah 2:30)

Menurut syariat Islam, Adam tidak diciptakan di bumi, tetapi diturunkan dimuka bumi sebagai manusia dan diangkat (ditunjuk) Allah sebagai khalifah (pemimpin/pengganti/penerus) di muka bumi atau sebagai makhluk pengganti yang sebelumnya sudah ada makhluk lain. Maka dengan kata lain adalah, Adam 'bukanlah makhluk berakal pertama' yang memimpin di bumi.

Dalam Al-Quran disebutkan tiga jenis makhluk berakal yang diciptakan Allah yaitu manusia, jin, dan malaikat. Manusia dan jin memiliki tujuan penciptaan yang sama oleh karena itu sama-sama memiliki akal yang dinamis dan nafsu namun hidup pada dimensi yang berbeda. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis dan tidak memiliki nafsu karena tujuan penciptaanya sebagai pesuruh Allah. Tidak tertutup kemungkinan bahwa ada makhluk berakal lain selain ketiga makhluk ini.

Dari ayat Al-Baqarah 30, banyak mengundang pertanyaan, siapakah makhluk yang berbuat kerusakan yang dimaksud oleh malaikat pada ayat di atas.

Surah Al Hijr ayat 27 berisi: "...dan Kami telah menciptakan jin sebelum (Adam) dari api yang sangat panas."(QS. Al-Hijr 15:27)

Dari ayat ini, Ulama berpendapat bahwa makhluk berakal yang dimaksud tidak lain adalah jin seperti dalam kitab tafsir Ibnu Katsir mengatakan: "Yang dimaksud dengan makhluk sebelum Adam diciptakan adalah jin yang suka berbuat kerusuhan."

Menurut salah seorang perawi hadits yang bernama Thawus al-Yamani, salah satu penghuni sekaligus penguasa/pemimpin di muka bumi adalah dari golongan jin.

Setelah Allah menciptakan bumi, langit, dan malaikat, Allah berkehendak untuk menciptakan makhluk lain yang nantinya akan dipercaya menghuni, mengisi, serta memelihara bumi tempat tinggalnya. Saat Allah mengumumkan para malaikat akan kehendak-Nya untuk menciptakan manusia, mereka khawatir makhluk tersebut nantinya akan membangkang terhadap ketentuan-Nya dan melakukan kerusakan di muka bumi. Berkatalah para malaikat kepada Allah:

"Mengapa engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?"(QS. Al-Baqarah 2:30)

Allah kemudian berfirman untuk menghilangkan keraguan para malaikat-Nya: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui."(QS. Al-Baqarah 2:30)

Lalu diciptakanlah Adam oleh Allah dari segumpal tanah liat yang kering dan lumpur hitam yang dibentuk sedemikian rupa. Setelah disempurnakan bentuknya, maka ditiupkanlah roh ke dalamnya sehingga ia dapat bergerak dan menjadi manusia yang sempurna.

Saat semua makhluk penghuni surga bersujud menyaksikan keagungan Allah itu, hanya Iblis dari bangsa jin yang membangkang dan enggan mematuhi perintah Allah karena merasa dirinya lebih mulia, lebih utama, dan lebih agung dari Adam. Hal itu disebabkan karena Iblis merasa diciptakan dari unsur api, sedangkan Adam hanyalah dari tanah dan lumpur. Kebanggaan akan asal usul menjadikannya sombong dan merasa enggan untuk bersujud menghormati Adam seperti para makhluk surga yang lain.

Disebabkan oleh kesombongannya itulah, maka Allah menghukum Iblis dengan mengusirnya dari surga dan mengeluarkannya dari barisan para malaikat disertai kutukan dan laknat yang akan melekat pada dirinya hingga kiamat kelak. Disamping itu, ia telah dijamin sebagai penghuni neraka yang abadi.


Iblis dengan sombong menerima hukuman itu dan ia hanya memohon kepada Allah untuk diberi kehidupan yang kekal hingga kiamat. Allah memperkenankan permohonannya itu. Iblis mengancam akan menyesatkan Adam sehingga ia terusir dari surga. Ia juga bersumpah akan membujuk anak cucunya dari segala arah untuk meninggalkan jalan yang lurus dan menempuh jalan yang sesat bersamanya. Allah kemudian berfirman bahwa setan tidak akan sanggup menyesatkan hamba-Nya yang beriman dengan sepenuh hati.

Allah hendak menghilangkan pandangan miring dari para malaikat terhadap Adam dan menyakinkan mereka akan kebenaran hikmah-Nya yang menyatakan Adam sebagai penguasa bumi, maka Allah memerintahkan malaikat untuk menyebutkan nama-nama benda. Para malaikat tidak sanggup menjawab firman Allah untuk menyebut nama-nama benda yang berada di depan mereka dan mengakui ketidaksanggupan mereka dengan mengatakan bahwa mereka tidak mengetahui sesuatupun kecuali apa yang diajarkan-Nya.

Adam lalu diperintahkan oleh Allah untuk memberitahukan nama-nama benda itu kepada para malaikat dan setelah diberitahu oleh Adam, berfirmanlah Allah kepada mereka bahwa hanya Allah lah yang mengetahui rahasia langit dan bumi serta mengetahui segala sesuatu yang nampak maupun tidak nampak.

Ini menunjukkan bahwa manusia memiliki akal yang dinamis. Sedangkan malaikat hanya memiliki akal yang statis sehingga hanya mengetahui hal-hal yang diajarkan langsung oleh Allah saja.

Adam diberi kesempatan oleh Allah untuk tinggal di surga dulu sebelum diturukan ke Bumi. Allah menciptakan seorang pasangan untuk mendampinginya. Adam memberinya nama, Hawa. Menurut cerita para ulama, Hawa diciptakan oleh Allah dari salah satu tulang rusuk Adam sebelah kiri sewaktu dia masih tidur sehingga saat dia terjaga, Hawa sudah berada di sampingnya. Allah berfirman kepada Adam:

"Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu syurga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik di mana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim."(QS. Al-Baqarah 2:35)

Sesuai dengan ancaman yang diucapkan saat diusir oleh Allah dari surga akibat pembangkangannya, Iblis mulai berencana untuk menyesatkan Adam dan Hawa yang hidup bahagia di surga yang tenteram dan damai dengan menggoda mereka untuk mendekati pohon yang dilarang oleh Allah kepada mereka.

Iblis menipu mereka dengan mengatakan bahwa mengapa Allah melarang mereka memakan buah terlarang itu karena mereka akan hidup kekal seperti Tuhan apabila memakannya. Bujukan itu terus menerus diberikan kepada Adam dan Hawa sehingga akhirnya mereka terbujuk dan memakan buah dari pohon terlarang tersebut. Jadilah mereka melanggar ketentuan Allah sehingga Dia menurunkan mereka ke bumi. Allah berfirman:

"Turunlah kamu! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kesenangan hidup sampai waktu yang ditentukan."(QS. Al-Baqarah 2:36)


Mendengar firman Allah tersebut, sadarlah Adam dan Hawa bahwa mereka telah terbujuk oleh rayuan setan sehingga mendapat dosa besar karenanya. Mereka lalu bertaubat kepada Allah dan setelah taubat mereka diterima, Allah berfirman:"Turunlah kamu dari syurga itu! Kemudian jika datang petunjuk-Ku kepadamu, maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati."(QS. Al-Baqarah 2:38)

Adam dan Hawa kemudian diturunkan ke Bumi dan mempelajari cara hidup baru yang berbeda jauh dengan keadaan hidup di surga. Mereka harus menempuh kehidupan sementara dengan beragam suka dan duka sambil terus menghasilkan keturunan yang beraneka ragam bentuknya.


Nabi Adam a.s. tidak turun dengan tanpa pengetahuan. Nabi Adam telahpun dipenuhkan dirinya oleh Allah swt akan ILMU SEGALA NAMA. Nabi Adam kemudiannya mewariskan ilmu ‘SEGALA NAMA’ kepada anak cucunya yang haq. Anak cucu inilah yang menjadi DEWA-DEWI dan ORANG-ORANG YANG DIBERI KAROMAH yang dikenali pada catatan-catatan ketamadunan kuno. Tetapi, dikhabarkan juga, ada ahli yang mendapat ilmu ini untuk mengikuti hawa nafsunya. Lantas terbinalah kecanggihan  yang berlandaskan materialistis seperti bangunan yang tinggi-tinggi dan  pembuatan senjata pemusnah.

Jadi, pada era itu, terdapat dua golongan ORANG-ORANG YANG DIBERI KAROMAH DAN DEWA-DEWI. Satu,  orang yang mengurus dunia dengan arahanNYA dan satu lagi, orang yang  membina dunia sebagai syurga hawa nafsu yang sudah pastinya disemarakkan
bujukan oleh rayuan dan tipu daya setan Azazil si Iblis. Maka, terjadilah ‘perseteruan’ sehingga kini. Inilah dinamakan sebagai ‘light and dark’ hitam atau putih, Ying atau Yang, antara yang baik dengan yang jahat.

Perseteruan ini sentiasa terjadi sehingga kini. Jadi para pembaca sudah tentu anda mengerti apa yang saya sampaikan. Daripada tulisan diatas kita semua tahu bahwa Nabi Adam a.s telah diturunkan Allah dari syurga ke suatu tempat di atas bumi dengan dilengkapi dengan ILMU SEGALA NAMA. Persoalannya di sini, dimanakah tempatnya Nabi Adam mendarat dari syurga tersebut? Mari kita bincangkan bersama.

Menurut kisah Adam diturunkan di (Sri Lanka) di puncak bukit Sri Pada dan Hawa diturunkan di Arabia. Mereka akhirnya bertemu kembali di Jabal Rahmah di dekat Mekkah setelah berpisah. Setelah bersatu kembali, konon Adam dan Hawa menetap di Sri Lanka, karena menurut kisah daerah Sri Lanka nyaris mirip dengan keadaan surga. Di tempat ini ditemukan jejak kaki Adam yang berukuran raksasa.

Namun berdasarkan riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterimanya dari Abdullah bin Umar, menyatakan bahwa Adam turun ke dunia di Bukit Shafa, sedangkan Hawa turun di Bukit Marwah. Akan tetapi, riwayat dari Ibnu Abi Hatim ini terdapat versi lain, yang menyatakan bahwa tempat turunnya Nabi Adam di Bumi, berada di antara negeri Makkah dengan Thaif. Di sisi lain, menurut riwayat Ibnu Asakir yang diperoleh dari Ibnu Abbas, menyatakan bahwa Nabi Adam turun di Hindustan dan Hawa turun di Jeddah. Dimana makna Jeddah berasal dari kata Jiddah, yang berarti nenek perempuan. 
 
Syaikh Yusuf Tajul Khalwati berpendapat, Nabi Adam turun di Pulau Serendib. Beliau ketika itu menduga, Pulau Serendib adalah Pulau Ceylon (Sri Langka). (Tafsir Al Azhar, Juzu’ I,  - Buya HAMKA). Tetapi berdasar penelitian, kata Serendib adalah bahasa Sanskrit yang ditulis dalam bahasa Arab, yang aslinya berasal dari kata Suvarna Dwipa pulau emas yakni Sumatera, yang merupakan sebahagian dari kawasan Pentas Sunda (Sundaland). Maka melalui pendapat yang dikemukankan oleh Syeikh Yusuf Tajul Khalwati, saya mencoba mencari kebenaran yang mengatakan Nabi Adam turun di Nusantara. Dan dualisme penafsiran persoalan ini adalah amat membingungkan karena tiadanya catatan sejarah maupun nash-nash dari Al Quran yang menyatakan tempat dimana Nabi Adam diturunkan di bumi. Namun sejak dari zaman Rasulullah telah banyak penafsiran dilakukan oleh ahli-ahli tafsir untuk memecahkan kebuntuan tersebut.

Selain daripada tafsiran-tafsiran yang dibuat oleh Syeikh Yusuf Khalwati terdapat beberapa tafsiran dari sumber-sumber yang bisa dipercayai kesahihannya. Cuma apa yang diperlukan adalah perbandingan paradigma dan pandangan yang sedikit berbeda saja. Di antara riwayat yang saya maksudkan adalah:
- Dari Qatadah r.a. beliau berkata bahwa Allah swt meletakkan Baitullah (di bumi) bersama Nabi Adam as. Allah swt telah menurunkan Nabi Adam as di bumi dan tempat diturunkannya adalah di tanah AL HIND. Dan dalam keadaan kepalanya di langit dan kedua kakinya di bumi, lalu para malaikat sangat memuliakan Nabi Adam as, kemudian Nabi Adam as pelan-pelan berkuranglah tinggi beliau. (H.R. Musonif Abdur Razaq).
- Dari Ibnu Abbas r.a. telah berkata : “Sesungguhnya tempat pertama dimana Allah swt turunkan Nabi Adam as di bumi adalah di AL HIND”. (H.R. Hakim)
- Dari Ali r.a. Telah berkata: “Bumi yang paling wangi adalah tanah AL HIND, di sanalah Nabi Adam as. Diturunkan dan pohonnya tercipta dari wangi surga”. (Kanzul Ummal).
- Dari Ibnu Abbas r.a. telah meriwayatkan Ali Bin Abi Thalib ra. Telah berkata: “Di bumi tanah yang paling wangi adalah tanah AL HIND (karena) Nabi Adam as. telah diturunkan di AL HIND, maka pohon-pohon dari AL HIND telah melekat wangi-wangian dari surga.” (H.R. Hakim)
-  Dari Ibnu Abbas r.a. telah berkata bahwa Jarak antara Nabi Nuh as dengan hancurnya kaumnya adalah 300 tahun. Dari tungku api (tannur) di AL HIND telah keluar air dan kapalnya Nabi Nuh as. Berminggu-minggu mengelilingi Ka’bah. (H.R.Hakim) (riwayat ini penting kerana kita telah tahu bahwa Nabi Nuh berkemungkinan besar berasal dari Sundaland/Nusantara. Jadi AL HIND disini adalah Indonesia dan bukan India. Namun ini hanya teori yang masih banyak harus dianalisa jadi sebaiknyanya jangan kita ambil bulat-bulat kesimpulan ini.
- Dari Abu Sa’id Al Khudri r.a. mengatakan bahawa seorang raja dari AL HIND telah mengirimkan kepada Nabi saw. sebuah tembikar yang berisi halia. Lalu Nabi saw. memberi makan kepada sahabat -sahabatnya sepotong demi sepotong dan Nabi saw pun memberikan saya sepotong makanan dari dalam tembikar itu. (H.R. Hakim)
- Dari Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Nabi saw. telah menjanjikan kepada kami tentang perang yang akan terjadi di AL HIND. Jika saya menemui peperangan itu maka saya akan korbankan diri dan harta saya. Apabila saya terbunuh, maka saya akan menjadi salah satu syuhada yang paling baik dan jika saya kembali (dengan selamat) maka saya (Abu Hurairah r.a.) adalah orang yang terbebas (dari neraka). (H.R. An Nasai)
- Dari Ali r.a. berkata bahwa dua lembah yang paling baik dikalangan manusia adalah lembah yang ada di MEKKAH dan lembah yang ada di AL HIND, dimana Nabi Adam as. diturunkan. Di dalam lembah itu ada satu bau yang wangi, yang darinya bisa membuat kamu jadi wangi.
- Dari Ibnu Abbas r.a. meriyawatkan dari Nabi saw telah bersabda bahwa Sesungguhnya Nabi Adam as. telah pergi haji dari AL HIND ke Baitullah sebanyak seribu kali dengan berjalan kaki tanpa pernah naik kendaraan walau sekalipun.(H.R. Thabrani)

- Dari Ubay bin Ka’ab r.a. mengatakan: “Saya berkeinginan untuk keluar di jalan Allah ke AL HIND”. Ubay bin Ka’ab ra. bertanya kepada Hasan ra.: “Berilah saya nasihat!”. Hasan ra. berkata: “Muliakanlah perinta Allah dimanapun kamu berada maka Allah akan memuliakan kamu”. (H.R. Baihaqi fii Syu’bul iman)
- Dari Sauban r.a. dari Rasulullah saw beliau bersabda: “Dua gulongan dari ummatku yang diselamatkan Allah dari Neraka. yaitu golongan yang berperang di AL HIND dan golongan yang berkumpul bersama Isa a.s.” (H.R. Nasai dan Ahmad) 


Berlalulah beberapa tahun dari kematian Nabi Adam a.s. Banyak hal berubah di muka bumi. Dan bertepatan dengan fitrah manusia itu sendiri, terjadilah kealpaan terhadap wasiat Nabi Adam. Kesalahan yang dahulu kembali berulang. Seperti mana ketika Nabi Adam dan Hawa melupakan ketetapan tuhan untuk menjauhi pohon didalam syurga, seperti itulah manusia melupakan ajaran illahi yang dilangsungkan dimuka bumi selepas turun dari syurga.

Sebelum lahirnya kaum Nabi Nuh, telah hidup lima orang saleh dari datuk-datuk kaum Nabi Nuh. Mereka hidup selama beberapa zaman kemudian mereka mati. Nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

"Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr". (QS. Nuh: 23)

Setelah kematian mereka, orang-orang membuat patung-patung dari mereka, dalam rangka menghormati mereka dan sebagai peringatan terhadap mereka. Kemudian berlalulah waktu, lalu orang-orang yang memahat patung itu mati. Lalu datanglah anak-anak mereka, kemudian anak-anak itu mati, dan datanglah cucu- cucu mereka. Kemudian timbullah berbagai dongeng dan khurafat yang membelenggu akal manusia di mana disebutkan bahawa patung-patung itu memiliki kekuatan khusus.


Pada era satu bangsa yakni pada era kepimpinan anak cucu Adam yang berhasil menyatupadukan segala makhluk, kehidupan mereka cukup hebat. Baik dari segi spiritual dan fisiknya. Terdapat juga kota-kota yang hebat. Kota di bawah laut dan di atas gunung. Tapi benua yang termaju itu terpecah dua dan saling berseteruan dan diakhiri dengan peristiwa perang besar. Pada era itu juga, mungkin bukan hanya ‘Atlantis’ atau ‘Lemuria’ saja yang wujud tapi masih ada lagi wilayah-wilayah lain yang hebat seperti ketamadunan ‘Ramayana’ yang di sebut dalam kitab Hindu. Tapi, janganlah kita pusing untuk memikirkan lokasi-lokasi mereka ini dengan berlandaskan peta kini. Ternyata ketika zaman dahulu, peta mereka cukup lain. Apapun, kita tinggalkan tentang itu. Kemudiannya, peristiwa banjir besar terjadi lantas menenggelamkan segala yang ada. Bahtera NUH yang besar, mendarat di tanah besar yang kini di kenali sebagai Asia Barat.

Dari situ, bermulalah kehidupan yang baru di mana, manusia-manusia homo sapien awal dihapuskan. Yang tinggal hanyalah manusia dari keturunan ADAM dan hewan-hewan yang di selamatkan. Bertebaranlah mereka membina kehidupan yang baru. Di suatu tempat yang lain pula, benua yang baru saja tenggelam itu membiarkan tanah paling tinggi mereka tempati tidak tenggelam oleh air. Setelah Banjir surut, wujudlah apa yang kita saksikan sekarang ini sebagai tanah ‘NUSANTARA’. Tanah-tanah tinggi ini dahulunya pernah di diami oleh para
ORANG-ORANG YANG SALEH DAN KEMUDIAN DIDEWA-DEWIKAN  pada era ADAM. 

Tetapi, sejak peninggalan NUH dan banjir besar, tanah ini kosong dan menunggu kepulangan penduduk asalnya. Tapi bilakah mereka itu akan pulang kepangkuan tanah ‘dewa’ ini? (peringatan kepada semua pembaca, bila saya sebut dewa bukan bermakna saya menyekutukan Allah tetapi ini merujuk kepada apa yang difahami oleh manusia zaman purba yakni manusia-manusia terpilih selain Nabi yang ada karomah atau ilmu yang tinggi sehingga disembah sebagai dewa secara sengaja atau tidak sengaja). Bagi lebih memahami perihal ini kita akan lihat era-era berikut satu persatu dimulakan dengan era Adam.


ZAMAN ERA ADAM

“Manusia dulunya SATU UMAT, kemudan berpecah-pecah”
(QS. 19:10)
Umat yang satu, itulah di mana era ADAM dan warisnya menjadi khalifah. ADAM yang berumur hampir 1000 tahun itu sudah tentu dapat mendirikan peradaban yang hebat demi menyatukan semua makhluk di bawah kekhalifahannya. Dengan ILMU SEGALA NAMA di berikan padanya itu, ternyata dia dapat mengurus SATU UMAT dengan baik. Namun umatnya bukan saja terdiri dari keturunannya malahan termasuk golongan jin-jin, gergasi dan raksasa seperti yang ada diceritakan dalam Al Quran. Dan makhluk pelik-pelik mungkin termasuk NAGA yang pada ketika itu bertebaran di muka bumi. Bagaimanapun, dia tidak sendirian. Bersamanya, anak cucunya yang di beri Haq untuk mengurus dunia secara bersama seperti Nabi Syith dan anak cucunya yang lain. Jika anda seorang ahli sufi atau seorang yang suka mencari kerahasiaan dalam agama, anda tentu pernah mendengar frasa ini: ‘ADAM mewariskan amanahNYA kepada keturunannya’, seperti dalam firman Allah:


"...dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkat mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan." (QS. Al-Isra' 17:70)

Terdapat dua pergertian untuk ini, salah satunya adalah mengenai pewarisan ILMU SEGALA  NAMA ini yang sesekali tidak akan hilang. Keduanya adalah, mengenai sifat, kelakuan dan nama-namaNYA yang di serap kedalam ADAM lantas di wariskan kepada anak cucunya yang Haq. Pewaris ILMU SEGALA NAMA ini di beri Haq untuk mengurus bumi. Mereka ini bisa kita sebut sebagai
ORANG-ORANG YANG SALEH DAN KEMUDIAN DIDEWA-DEWIKAN, mereka ini mengurus dunia dengan keizinanNYA yang maha besar.

Kemudian, terdapat perseteruan berlaku dan ia menyebabkan Umat yang satu berpecah-pecah, ini sudah tentu sebab itu para Malaikat sebelum Allah menjadikan Adam sudah dapat menerka bahwa anak cucunya akan membawa kerusakan di muka bumi. Perseteruan ini mungkin dari mereka yang ingin menjadi ‘Dewa-Dewa atau Orang-orang yang diberi Karomah’ tapi tiada Haq contohnya dalam kisah Habil dan Qabil. Ada yang mencuri sedikit dari ILMU itu dan membina ketamadunan mereka sendiri yang menjadi asas kepada perbedaan bangsa sekarang. 


Pada masa yang sama juga, terdapat DEWA-DEWI yang hanya berlandaskan pada nafsunya seperti Qabil dan anak cucunya yang mendendami adik beradiknya yang lain. Jadi, dunia pada ketika itu, terbagi kepada dua, namun ini semua di atas kehendakNYA. Bukankah ALLAH itu maha PERANCANG?! Pertentangan ini berterusan sehinggalah berlaku peperangan yang pertama di bumi yaitu peseteruan diantara keturunan Qabil dan keturunan anak-anak Adam yang salih  seperti Nabi Syits kepada Qabil dan keturunannya. Qabil setelah membunuh Habil dikatakan telah melarikan diri ke Mesir atau Babilon dan menetap dengan anak cucunya disitu. Keturunannya dinamakan Bani Qabil yang memulakan tamadun di lembah Nil dan seterusnya menjadi umat Nabi Idris. 

Diriwayatkan bahwa Allah swt menyeru Nabi Syits memerangi Qabil dan keturunannya. Akhirnya Qabil ditangkap dan dihukum mati. Setelah dia mati anank-anak serta cucu Qabil menuntut mayat Qabil dan kemudiannya untuk dikuburkan. Namun sebelum mereka sempat menguburkan mayat Qabil, Syaitan yang menyamar sebagai seorang manusia membujuk mereka supaya menguburkan Qabil didalam batu berhablur yang dipahat sebagai keranda. Syaitan atau Iblis juga membujuk mereka supaya mayat itu dipakaikan dengan pakaian yang cantik-cantik serta diawetkan dengan garam dan disertakan dengan barang-barang perhiasan dan makanan. Kemudian Iblis mengarahkan agar keranda batu itu diletak didalam sebuah tempat dan dipuja setiap setahun sekali dengan membawa makanan dan wangian. Maka bermulalah upacara menghormati si mati seperti mumi Mesir Purba. (sumber kitab Israiliat).


“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu” (QS. Al A' Raaf 34:7).
 

“Dan demikianlah Kami adakan pada tiap-tiap negeri  orang-orang besar yang jahat supaya mereka melakukan tipu daya dalam negeri itu. Dan mereka tidak memperdayakan melainkan dirinya sendiri, sedang mereka tidak menyadarinya” (QS. Al An’am : 123).

“Dan Dia lah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebagian kamu atas sebagian beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu.”
(QS. Al An’am : 165).

ZAMAN ERA KETURUNAN ADAM

Pada era ADAM dan anak cucunya yang mengurus bumi, mereka digelar ORANG-ORANG YANG SALEH DAN KEMUDIAN DIDEWA-DEWIKAN. 


Sebelum lahirnya kaum Nabi Nuh, telah hidup lima orang saleh dari datuk-datuk kaum Nabi Nuh. Mereka hidup selama beberapa zaman kemudian mereka mati. Nama-nama mereka adalah Wadd, Suwa’, Yaghuts, Ya’uq dan Nasr.

"Dan mereka berkata: "Jangan sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) wadd, dan jangan pula suwaa', yaghuts, ya'uq dan nasr". (QS. Nuh : 23)


Setelah kematian mereka, orang-orang membuat patung-patung dari mereka, dalam rangka menghormati mereka dan sebagai peringatan terhadap mereka. Kemudian berlalulah waktu, lalu orang-orang yang memahat patung itu mati. Lalu datanglah anak-anak mereka, kemudian anak-anak itu mati, dan datanglah cucu- cucu mereka. Kemudian timbullah berbagai dongeng dan khurafat yang membelenggu akal manusia di mana disebutkan bahawa patung-patung itu memiliki kekuatan khusus.


Berbalik perihal ILMU SEGALA NAMA, pada era ADAM dan seterusnya, sehinggalah ‘hari pembersihan’ itu. Dewa-dewi  ini ada juga yang mengangkat dari kalangan mereka sebagai raja. Raja-raja ini akan tinggal di istana yang penuh hiasan yang cantik dan perbuat dari emas. Ini semua berdasarkan  cerita  dari nenek moyang mereka ADAM yang ada pada manusia itu tentang ‘syurga’ di mana tempat asalnya ADAM dan HAWA.

Dewa-dewi ini tetaplah juga manusia sebab mereka adalah anak cucu Adam juga, tetapi mereka ini golongan yang mendapat keilmuan yang tinggi karena tanggung jawab yang telah diberikan kepada mereka. Namun akhirnya manusia dari era selepasnya terkesan dengan karomah-karomah yang ada pada mereka ini sehinggakan patung-patung mereka diperlukan dan disembah seperti tuhan. Lama kelamaan perbuatan menyembah berhala ini menjadi suatu agama yang universal dan merebak ke seluruh dunia. Maka muncul lah dewa-dewi yang pelbagai belahan bumi diantara keturunan bani adam seperti: Enki dan Enlil, Diana, Baal, Zeus, Hera,Vishnu, Rama, Brahma,Venus dan banyak lagi yang merupakan nama-nama para manusia yang mempunyai ilmu segala nama yang diwarisi dari datuk atau moyang mereka ADAM.


“Apakah mereka tidak memperhatikan berapa banyak generasi yang telah Kami binasakan sebelum mereka, padahal telah Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, yaitu keteguhan yang belum pernah Kami berikan kepadamu” (QS al-an’am : 6).


ZAMAN ERA NUH

Setelah beberapa terjadi peperangan dan kekejaman yang amat hebat, bumi ketika itu harus "dibersihkan" demi kesejahteraan manusia khalifah. Pada ketika itu, banjir besar mulai melimpah-limpah. Bukti-bukti scientifik mengatakan bahwa pada jutaan tahun dulu, bumi mempunyai DUA BULAN dan satu daripadanya telah ‘keluar’ dari  lintas edarnya dan menyebabkan Gelang Bulan yang terdiri dari ES itu jatuh ke bumi yang menyebabkan banjir besar. Namun teori ini masih dalam konteks kontroversi sebab teori ini belum sepenuhnya benar. 


Dalam buku "EDEN IN THE EAST", STEPHEN OPPENHEIMER mengatakan sebelum terjadinya banjir besar terhebat ini, sudah terjadi 2 kali banjir sebelumnya, tetapi tidak membawa kepada kemusnahan. Pada zaman ES itu, suhu mulai menurun dan menyebabkan banyak tanah-tanah membeku. Namun ketika  suhu meningkat pula, perlahan-lahan ES ini mencair dan menyebabkan banjir yang membinasakan di seluruh dunia. Akibatnya, dunia dalam era banjir besar.


Bahtera NUH yang dapat memuatkan umat manusia yang beriman dan ribuan spesis hewan ini amat mengherankan scientis modern. Jika membaca apa yang dikabarkan di dalam BIBLE dan AL QURAN, bahtera ini cukup besar karena dapat membuatkan sekalian mahkluk demi penghidupan selanjutnya. Di atas bahtera itu, NUH lah Raja dan diibaratkan BAHTERA itulah satu-satunya tanah yang berpenghuni. NUH lah yang mempunyai ILMU SEGALA NAMA itu. Jika tidak, masa beliau membina bahtera yang cukup besar dan mengarah sekalian makhluk menaiki bahteranya itu, baik  manusia, hewan dan jin sekalipun. Maka memang benarlah NUH adalah ‘raja lautan’ dan  NUH lah yang mewarisi ILMU SEGALA NAMA itu. Setelah lamanya pelayaran itu (menunggu air banjir surut), akhirnya, bahtera mereka terdampar di suatu tempat di sekitar Asia barat, di mana, di sinilah bermulanya era peradaban baru muncul.

 

Dari transformasi dan asimilasi di dalam kapal, wujud manusia yang berupa kini yang mana merekalah yang akan meneruskan penceritaan bumi baru ini sehingga ke hari kiamat.


Pendaratan bantera itu, kemudiannya dilanjutkan dengan keturunan anak-anak Nabi Nuh a.s. (Yafith, Sam dan Ham) lalu membentuk bangsa-bangsa mengikut warna kulit. Ada yang mengatakan Yafidt melahirkan bangsa berkulit putih dan bergerak menuju ke barat dan utara. Sam melahirkan bangsa berkulit kuning dan Ham melahirkan bangsa berkulit hitam (di katakan sebagai sumpahan karena bersetubuh ketika bencana).  Ibnu Abbas menceritakan bahwa keturunan Sam menurunkan bangsa kulit putih, Yafith menurunkan bangsa berkulit merah dan coklat, Sedangkan ham menurunkan bagsa Kulit hitam dan sebagian kecil berkulit putih.
Ketiga-tiga waris Nuh as ini berevolusi dan melahirkan ketamadunan dunia yang seperti Sumeria, Akkadian, Mesir dan lain-lain. Bukanlah mereka yang membuka ketamadunan ini, akan tetapi anak cucu kepada mereka-mereka inilah yang membukanya. Jadi, dimanakah pula bangsa MIM ini. Golongan yang menjadi raja, bangsawan dan para pendita inilah bangsa MIM disetiap peradaban itu tadi. 

Bagaimana ini bisa terjadi? Di dalam bahtera Nuh itu anak-anak Nabi NUH a.s. melahirkan keturunan mereka masing-masing. Umur mereka pada ketika itu juga amat panjang. Anak-anak Nabi Nuh a.s. itu bukanlah turun pada satu tempat akan tetapi berpisah ditiap-tiap daratan karena itulah wasiat Nuh a.s. Apakah itu wasiat Nuh as? Wasiat Nuh adalah kata-kata kepada warisnya supaya Kembali Semula Ke Tanah Asal Mereka yakni Pentas Sunda (Sundaland) yang tenggelam itu. Jadi, demi memenuhi wasiat itu, di setiap keturunan anak-anak Nuh a.s., akan terdirinya ketamadunan yang hebat. (penj. Tamadun berasal dari kata Arab 'maddana' yang berarti membangun suatu kota atau seseorang/masyarakat yang mempunyai peradaban)

Salah satu bukti yang jelas mengatakan di sini, yakni Nusantara adalah Sundaland tempat bermulanya pelayaran Nabi Nuh adalah, terdapat sebuah daerah di Sumetera dinamakan LEMUR. Selain itu, bukti lain adalah, kajian daripada Stephen Oppenheimer dan Prof Arysio Santos, serta Thomas suarez yang membukukan kajiannya mengenai peta kuno dalam buku bertajuk “Early Mapping of Southeast Asia: The Epic Story”. Dalam buku Eden in the East Oleh Stephen Oppenheimer ini, beliau menerangkan secara keilmuan mengenai berlakunya banjir besar ketiga yang mana telah menghapuskan sebagian besar pemukaan bumi dan cerita mengenai pelayaran NUH dalam pelbagai versi ketamadunan dunia. Prof. Arysio Nunes dos Santos sarjana dan maha guru ilmu fisika nuklir di Universitas Minas Gerais, dari Brazil ini  pula, menerangkan teori yang menempatkan secara definitif ATLANTIS berada di INDONESIA, Malaysia, Thailand dan Brunei. Tapi malang buatnya, setelah beberapa bulan bukunya diterbitkan, beliau telah keburu meninggal. Apakah ini merupakan perbuatan sabotase karena sejarah Nabi Nuh a.s terkuak?

Apakah anda dapat melihat pola pergerakan kajian dari pengkaji barat ini? Baiklah, saya coba arahkan pikiran pada anda. Pada zaman dulu, yakni di era penjajahan, explorasi dunia ditelusuri oleh pihak barat yang mana mereka mau mencari ‘The Lost World’. Akhirnya, Christpher Colombus menjumpai Amerika dan mengelarkannya itu sebagai ‘The Lost World’. Tapi, hakikatnya apa yang dicari oleh Colombus itu adalah salah. Explorasi ini diteruskan sehinggalah mereka bertemu dengan Piramid GIZA dan mula mengkaji mengenai ketamadunan itu. Akhirnya, mereka mencoba menggali mengenai asal keturunan PARA FIRAUN ini.

Di era millenium ini, secara tiba-tiba, para pengkaji barat mencoba mengalih perhatian mereka kepada NUSANTARA. Tapi, kebanyakkan dari mereka ini adalah pengkaji yang bebas dan tidak terikat dengan apa-apa maupun organisasi. Sejak dari itu, mereka dapat menggali misteri yang lain-lain seperti: di mana ‘The Lost Mine’, ‘Solomon Mine’, ‘asal keturunan FIRAUN’ dst. Segalanya berawal daripada sini. Tapi, persoalannya, di sini itu bagaimana? Jika dikaji, di permukaan Tanah Nusantara kini, tiada sisa-sisa ketamadunan yang hebat-hebat seperti Sumeria, Mesir dan sebagainya. Jadi, bagaimana mereka bisa dikatakan semuanya berada di Nusantara? persoalan  ini, karena perlu dibuktikan dengan data-data dari manuskrip dan buku-buku sejarah atau kajian rujuk silang.

نَّاللَّهَاصْطَفَىآَدَمَوَنُوحًاوَآَلَإِبْرَاهِيمَوَآَلَعِمْرَانَعَلَىالْعَالَمِينَ (33)

“Sesungguhnya Allah telah memilih Adam, Nuh, keluarga Ibrahim dan keluarga ‘Imran melebihi segala umat (di masa mereka masing-masing)” (Qs. Ali Imron: 33)

Waris-waris Nuh ini bergerak menuju ke Pentas Sunda setelah mendarat di daratan yang cukup jauh dari kampung halaman mereka. Ayat Quran di atas adalah  yang harus kita ambil demi membongkar siapakah sebenarnya ‘ahli rumah’ atau ‘ahlul bait’ ini. Ahlul bait bukanlah syarif atau syarifah dari golongan Arab semata-mata. Kita harus membongkar agar kesenimbungan waris ini dapat di jalinkan. Darah keturunan Nuh-lah yang menjadi raja dan bangsawan sehingga menerbitkan raja-raja agung di ketamadunan yang hebat. Akan tetapi, semakin lama semakin mereka lupa akan wasiat itu. Cuma segolongan yang ‘ingat’ saja akan meneruskan perjalanan mereka menuju ‘THE PROMISED LAND’.

Hal ini di burukkan pula dengan penyembahan berhala akibat dari pemujaan dewa-dewi serta raja-raja dan wali agung pada zaman dulu kala seperti kisah raja Namrud (Nimrodz) yang merupakan Cicit Kepada Nabi Nuh sendiri yang lupa akan kekuasaan Allah dan mengatakan dia anak Allah. Kaum Namrud juga mewarisi Ilmu-ilmu para Nabi seperti Matematik, Astronomi dan Sains malahan kaum ini kaum pertama di dunia yang menciptakan konsep jam, menit dan saat serta membagi 24 jam kepada satu hari. Kaum ini  juga pakar pembina bangunan tinggi, jambatan dan saluran irigasi. Kesemua ilmu ini telah diwarisi dari nenek moyangnya yang merupakan orang soleh dan Nabi-Nabi seperti Nabi Idris dan Nuh. Namun akibat kesombongannya kaum ini lupa akan Allah dan mengangkat Namrud sebagai tuhan.

Jelas disini bahwa wasiat ilmu ADAM yang di turunkan kepada anak cucu baginda lantas menjadikan mereka itu sebagai ‘dewa’ atau wali. Tugas mereka adalah untuk mengurus, bukannya untuk di sembah. Tapi, akibat kebodohan manusia yang tidak mau mengikut, mereka ini menyembah-yembah manusia ‘dewa’ ini dan jadikan mereka ini tuhan. Akibatnya, mereka dimusnahkan atau dihapuskan terus dari permukaan bumi. Kenapa harus mereka menyembah tuhan manusia sedangkan ALLAH itu selayaknya di sembah kerana DIA-lah dzat Maha Segala.

Maka dapat saya simpulkan disini bahawa pencarian kita akan Tanah asal Nabi-Nabi terawal seperti Adam, Idris dan Nuh sudah semakin hampir. Walaupun saya tahu bahawa ada pihak yang kurang senang saya mengaitkan hal agama dalam penulisan saya namun hal ini tidak dapat dielakkan karena kebanyakan sumber adalah dari situ. Dari itu kita dapat memberikan rumusan bahwa Nabi Adam a.s berkemungkinan besar diturunkan di Nusantara. Hal ini adalah karena perkataan AL HIND yang digunakan oleh orang Arab untuk memanggil benua India bukan khusus untuknya saja sebaliknya AL HIND adalah konotasi untuk melambangkan kawasan Pengaruh Hindu Termasuk Asia Tenggara. Oleh sebab itulah ketika Khalifah Muawwiyah menulis surat balasan kepada Maharaja Srivijaya dia memanggil Maharaja tersebut sebagai PENGUASA AL HIND. Malah surat dari Srivijaya kepada Khalifah Umar Abdul Aziz juga dicatatkan sebagai surat dari seorang Maharaja Al Hind. Namun seperti yang kita ketahui Sriwijaya bukan terletak di India bukan?

Tambahan lagi saya menemui buku sejarah tulisan pengkaji luar berbahasa Inggris yang mengiyakan tanggapan saya bahwa Nusantara adalah Al Hind. Selain itu jika kita lihat pada panggilan orang-orang barat pada zaman penjelajahan terhadap Nusantara adalah "THE EAST INDIES" atau HINDIA TIMUR. Perhatikan perkataan HINDIA itu. Semua panggilan ini diperoleh daripada catatan awal pengembaraan Arab ke Nusantara seperti Ibnu Battutah dan Al Idrisi. Satu lagi perkara yang amat menarik bagi saya adalah mengenai Hadith dan riwayat yang telah saya paparkan di awal artikel ini tadi. Salah satu dari Hadith tersebut adalah mengenai peperangan yang bakal berlaku di Al Hind. Nabi Muhammad mengatakan bahwa sesiapa yang menyertai peperangan tersebut akan masuk syurga.

Seperti yang kita ketahui  banyak peperangan yang melibatkan orang Kafir Harbi dengan orang Islam sepanjang zaman di Nusantara ini. Peperangan terbesar di Nusantara dan terawal tentulah diantara Portugis dengan Melaka, kemudian disusuli Portugis dengan Aceh yang mengorbankan lebih dari 60 ribu orang Aceh serta banyak lagi peperangan diantara portugis dengan Aceh dan negeri-negeri Melayu yang lain.
Malahan peperangan ini masih berterusan hingga kini yaitu diantara Pattani Dengan Thai dan Moro Dengan Kristian Filipina dan Aceh dengan Indonesia. Saya pasti peperangan yang disebut Nabi Saw adalah peperangan-peperangan tersebut.
Bukankah kesemua riwayat ini mengokohkan lagi teori yang menyatakan bahwa Nabi Allah Adam itu diturunkan Allah di Nusantara dan membina tamadunnya disini bersama anak cucunya Nabi Syiths dan Nuh. Tidak perlulah rasanya saya terangkan lagi apa signifikan hadis yang mengatakan tentang kewujudan kayu wangi-wangian di Al Hind karena Nusantara memang terkenal dengan kayu-kayuan tersebut seperti: Jati, Gaharu, Cendana, Depu, Kayu Manis, Kemenyan dan lain-lain.

sekian dan terima kasih.
Waallahhu a’lam bi showab


 

Resensi Akhir Zaman • All Rights Reserved