Selasa, 04 Februari 2020

0 Syaikh Al-Qardhawi Tentang Syiah

Ketika Syaikh Al-Qardhawi  Akui Kesalahan Fatwanya

Oleh Ikhwanul Kiram Mashuri

Syekh Dr Yusuf Qardhawi adalah ulama besar Sunni. Ia merupakan ketua Persatuan Ulama Dunia. Doktor fikih dari Universitas Al Azhar, Kairo, kelahiran 9 September 1926 di desa kecil bernama Shafth di tengah Delta Nil, Mesir, ini telah menulis puluhan buku dan diterjemahkan dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Indonesia. Pandangannya selalu menjadi fatwa dan rujukan umat Islam dunia. Fatwa-fatwanya bukan hanya seputar ibadah dan muamalah, tapi juga mencakup berbagai masalah, dari politik, demonstrasi hingga revolusi rakyat melawan rezim penguasa yang zalim.

Qardhawi bahkan tidak hanya berfatwa, tapi juga ikut aktif dalam kegiatan politik. Itulah sebabnya, ketika pecah revolusi rakyat Mesir untuk menjatuhkan rezim Presiden Husni Mubarak pada awal 2011, ia pun terbang dari Qatar (tempatnya bermukim) ke Kairo. Ia bergabung dengan rakyat Mesir ikut berdemonstrasi. Selain memberi orasi di depan para demonstran, ulama berusia 87 tahun itu juga memimpin shalat Jumat di lapangan Tahrir. “Mubarak harus mundur dari kursi presiden,” katanya dalam khotbah Jumat, ketika itu. Alasannya, rakyat telah mencabut mandatnya kepada sang pemimpin Mesir itu.

Terhadap konflik di Suriah, Qardhawi juga mengeluarkan fatwa mengenai boleh dan tidaknya unjuk rasa melawan rezim penguasa. Menurutnya, menjatuhkan sebuah rezim dibolehkan alias halal manakala ada kezaliman dan penghilangan terhadap hak asasi manusia. Atas dasar itu, Qardhawi yang hafal Alquran pada usia 10 tahun ini memperbolehkan aksi unjuk rasa, bahkan revolusi melawan penguasa yang dianggap zalim, terutama mereka yang menyengsarakan rakyat, seperti rezim Presiden Bashar Assad.

Barangkali, karena fatwanya yang memperbolehkan menjatuhkan rezim Assad itulah Syekh Qardhawi kemudian mengakui kesalahan fatwa sebelumnya yang pernah ia ucapkan. Pada 2006, Qardhawi menyatakan wajib hukumnya mendukung Hizbullah dan pemimpinnya, Syekh Hasan Nasrullah dalam menghadapi serangan Israel ke Lebanon. “Saya pernah membela-selama bertahun-tahun-Hasan Nasrullah yang menamai partainya Partai Allah (Hizbullah), padahal partai itu adalah partai tirani (thoghut) dan partai setan. Mereka membela Bashar Assad,” katanya dalam sebuah pidato di Qatar, beberapa hari lalu.

“Saya (waktu itu) harus berlawanan dengan para ulama dan syekh besar di Arab Saudi untuk membela Hizbullah. Namun, ternyata para syekh (ulama) Saudi lebih dewasa daripada saya. Mereka berpandangan lebih jauh ke depan. Mereka (ulama Saudi) terbukti mengetahui siapa sebenarnya Hizbullah itu,” lanjut Qardhawi mengoreksi fatwanya yang pernah mendukung Hizbullah dan Hasan Nasrullah.

Dalam konflik di Suriah sekarang ini, Hasan Nasrullah secara terang-terangan menyatakan mendukung rezim Bashar Assad yang dinilai Qardhawi sebagai penguasa zalim. Tentara Hizbullah dan Bashar Assad saling membantu merebut Kota Qusair dari tangan para pejuang revolusi Suriah. Qusair adalah kota strategis bagi Assad untuk mempertahankan kekuasaannya. Pasukan Assad menyerang dari udara, sementara tentara Hizbullah dari darat. Puluhan orang tewas dalam pertempuran ini. Sebagian besar adalah para pejuang revolusi Suriah.

Syekh Qardhawi bukan hanya mencabut fatwa dukungannya terhadap Hasan Nasrullah dan Hizbullah, melainkan juga terhadap Iran. Katanya, dalam sebuah pidato di Qatar, “Selama ini dan sudah berlangsung bertahun-tahun saya menyerukan pendekatan antarmazhab (taqrib bainal madzahib). Untuk itu, saya terbang ke Iran saat dipimpin Presiden Mohammad Khatami. Mereka telah menertawakan saya dan banyak orang seperti saya. Mereka sebenarnya berpura-pura ketika menginginkan pendekatan antarmazhab.”

Pengakuan Syekh Qardhawi mengenai kesalahan fatwanya tadi kontan saja menjadi berita besar di berbagai media Arab, baik cetak, online, maupun televisi. Bukan hanya menjadi berita, mereka juga menurunkan berbagai ulasan dari sudut pandang yang berbeda-beda. Tapi, intinya hanya satu bahwa para ulama dan pemimpin Arab, terutama dari negara-negara Teluk, kini dihantui kekhawatiran mengenai semakin meluasnya pengaruh Syiah di kawasan Timur Tengah. Mereka munuduh Iran ingin menciptakan poros Syiah Teheran-Damaskus-Beirut. Apalagi, Iran selama ini secara terang-terangan juga membela rezim Presiden Bashar Assad.

Menurut pengamat Timur Tengah Abdul Rahman Al-Rasyid, Syekh Qardhawi tidak salah ketika melemparkan keinginannya untuk mendekatkan mazhab-mazhab dalam Islam. Ia juga tidak salah ketika menyerukan perlunya saling bahu-membahu antar pemimpin Muslim. Ide Syekh Qardhawi, lanjut Al-Rasyid, adalah sangat baik dan terpuji. Yang salah adalah ia (Qardhawi) kurang memahami strategi politik yang dimainkan oleh para pemimpin negara-negara di Timur Tengah, terutama para pemimpin Iran.

Yang jelas, pernyataan Syekh Qardhawi yang mencabut fatwa dukungannya terhadap Hizbullah di Lebanon Selatan dan Syekh Hasan Nasrullah serta keraguannya terhadap pendekatan antarmazhab dengan para ulama Iran akan berpengaruh luas terhadap perkembangan di kawasan Timur Tengah. Kawasan panas ini akan terus bergolak. Bukan hanya menghadapi penjajahan dan pendudukan oleh Zionis Israel, tapi juga kekhawatiran terjadinya gesekan antara penganut Sunni dan Syiah, seperti yang kini sedang berlangsung di Irak, Suriah, Lebanon, dan Bahrain. Wallahu a'lam.

Sumber : harianrepublika.com


9 Kesesatan Syi’ah Imamiyah Menurut Syaikh Al-Qardhawi

DR Yusuf Al Qardhawi dalam Fatawa Mu'ashirah, menjelaskan 9 perbedaan tajam antara Ahlus Sunnah yang sederhana dengan Syiah Imamiyah Itsna Asy'ariah / 12 Imam. Berikut ini fatwa beliau:


1. Sikap Syiah terhadap Al Qur `an.

Sikap mereka terhadap Al Qur `an seperti yang telah saya jelaskan berulang-ulang kali bahawa mereka tetap percaya dengan Al Qur` an yang kita hafal. Mereka berkeyakinan bahawa Al Qur `an adalah firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mushaf yang dicetak di Iran dengan mushaf yang dicetak di Mekah, Madinah dan Kaherah adalah sama. Al Qur `an ini dihafal oleh anak-anak Iran di sekolah-sekolah agama (madrasah / sekolah pondok) di sana. Para ulama Iran juga memetik dalil-dalil Al-Qur `an di dalam masalah pokok-pokok dan furu di dalam ajaran Syi'ah yang telah ditafsirkan oleh para ulama mereka di dalam kitab-kitabnya. Namun masih tetap ada di antara mereka yang berkata, "Sesungguhnya Al Qur` an ini tidak lengkap. Kerana ada beberapa Surah dan ayat yang dihilangkan dan akan dibawa oleh Al Mahdi pada saat dia muncul dari persembunyiannya. "

Mungkin saja sebahagian besar ulama mereka tidak mempercayai hal ini. Malangnya mereka tidak mengkafirkan orang yang telah mengatakan hal di atas. Inilah sikap yang sangat berbeza dengan sikap Ahlu Sunnah, iaitu barangsiapa yang meyakini telah berlaku penambahan dan pengurangan terhadap Al Qur `an, maka dengan tidak ragu lagi, kami akan cap dia sebagai orang kafir.

Padahal keyakinan seperti ini terdapat di dalam kitab-kitab rujukan mereka, seperti Al Kaafiy yang setanding dengan kitab Shahih Al Bukhari bagi Ahlu Sunnah. Kitab ini telah dicetak dan diterjemahkan lalu didistribusikan ke seluruh dunia tanpa ada penjelasan apa-apa di dalamnya. Ada pepatah di masyarakat, "Orang yang diam terhadap kebatilan, sama dengan orang yang memperkatakannya."

2. Sikap Syiah terhadap As Sunnah

Definisi As Sunnah menurut Ahlu Sunnah adalah sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam yang telah dimaksum oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Dia perintahkan umat Islam untuk mentaati beliau di samping taat kepada-Nya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Katakanlah," Taatlah kepada Allah dan taatlah kepada Rasul; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya kewajipan Rasul (Muhammad) itu hanyalah apa yang dibebankan kepadanya, dan kewajipan kamu hanyalah apa yang dibebankan kepadamu. Jika kamu taat kepadanya, nescaya kamu mendapat petunjuk, "(Surah An-Nur [24]: 54). "Dan taatlah kepada Rasul (Muhammad), agar kamu diberi rahmat," (Surah An-Nur [24]: 56). "Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan Ulil Amri (pemegang kuasa) di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeza pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah (Al Qur'an) dan Rasul (sunnahnya), "(Surah An-Nisa [04]: 59). "Katakanlah (Muhammad)," Taatilah Allah dan Rasul. Jika kamu berpaling, ketahuilah bahawa Allah tidak menyukai orang-orang kafir, "(QS Ali Imran [03]: 32). "Barangsiapa mentaati Rasul (Muhammad), maka sesungguhnya dia telah taat kepada Allah. Dan sesiapa berpaling (dari ketaatan itu), maka (ketahuilah) Kami tidak mengutusmu (Muhammad) untuk menjadi penjaga mereka, "(Surah An-Nisa [04]: 80). "Dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Quran itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya), "(Surah An-Najm [53]: 3-4) dan ayat-ayat yang lain.

Akan tetapi batasan As Sunnah menurut Syiah adalah sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dan para imam mereka yang maksum. Maksudnya, sunnah merangkumi bukan hanya sunnah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam melainkan juga sunnah kedua belas imam mereka. Imam mereka yang 12 orang tersebut wajib ditaati sebagaimana taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasul-Nya yang dikuatkan dengan wahyu. Mereka telah menambah perintah Al Qur `an untuk taat kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasul-Nya iaitu agar taat kepada makhluk yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sendiri tidak memerintahkannya. Lebih dari itu, kita mengkritik Syiah kerana telah meriwayatkan sunnah dari orang-orang yang tidak tsiqah (dipercayai) kerana tidak memenuhi unsur keadilan dan kesempurnaan hafalan.

Oleh kerana itu, kitab-kitab rujukan Ahlu Sunnah tidak diterima oleh mereka. Mereka tidak mahu menerima kitab Shahih Bukhari, Muslim dan Kutub Sittah yang lain, tidak mahu menerima kitab Al Muwatha, Musnad Ahmad dan kitab-kitab yang lain.

3. Sikap Syiah terhadap Para Sahabat

Pandangan negatif mereka terhadap para sahabat merupakan pokok dan dasar ajaran Syiah. Sikap mereka itu adalah keturunan dari pokok ajaran mereka yang meyakini bahawa, Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam telah berwasiat jika beliau wafat, maka Ali bin Abi Talib adalah pengganti beliau. Akan tetapi para sahabat menyembunyikan wasiat ini dan mereka merampas hak Ali ini secara zalim dan terang-terangan. Para sahabat telah berkhianat terhadap Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam yang menjadi wasilah mereka mendapatkan petunjuk dan mereka hidup di zaman beliau untuk menolongnya walaupun dengan nyawa dan segala yang mereka miliki.

Yang mengherankan, apakah mungkin para sahabat bersekongkol untuk melakukan hal ini, sementara Ali Radhiyallahu 'Anh-sang pemberani-hanya boleh diam sahaja tidak berani mengumumkan haknya ini. Justeru Ali malah ikut membaiat Abu Bakar, Umar dan kemudian Uthman. Ali tidak berkata kepada salah seorang dari mereka itu, "Sesungguhnya aku mempunyai wasiat dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam. Akan tetapi, mengapa kamu bersikap seolah-olah tidak tahu? Mengapa kamu hanya berbincang dengan enam orang sahaja dan kamu menyibukkan diri kamu sendiri? Siapakah orangnya yang harus memilih sedangkan umat Islam telah menetapkan hal ini dengan wasiat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam? "Mengapa Ali tidak mahu menjelaskan hal ini? Kemudian, jika memang Al Hasan bin Ali benar-benar telah tercatat sebagai khalifah selepas Ali kerana ada wasiat Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam, tapi mengapa justru Al Hasan mengalah dan memberikan jawatan khalifah ini kepada Mu'awiyah? Mengapa Al Hasan melakukan hal ini, padahal ini merupakan perintah dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala? Dan mengapa justeru Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam di dalam hadisnya (hadis ramalan Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wa Sallam) memuji sikap Al Hasan ini?

persoalan ini tidak boleh dijawab sama sekali oleh mereka.

Inilah tuduhan palsu mereka terhadap para sahabat yang tidak terbukti. Keterangan mereka ini sangat bertentangan dengan keterangan yang Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebutkan di dalam beberapa Surah Al Qur `an. Seperti di akhir Surah Al Anfal, Surah At-Taubah, Surah Al Fath di pertengahan di akhirnya, Surah Al Hasyr dan Surah-Surah yang lain.

Demikian pula As Sunnah telah memuji para sahabat baik secara umum mahupun secara khusus. Juga zaman mereka itu dianggap sebagai sebaik-baik zaman setelah Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam.

Juga apa yang dicatat oleh sejarah tentang mereka. Mereka adalah orang-orang yang telah menghafal Al Qur `an dan dari mereka lah umat menukilnya. Mereka juga adalah orang-orang yang telah menukil As Sunnah dan menyampaikan apa yang mereka nukil dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam baik perkataan, perbuatan mahupun persetujuan beliau kepada umat ini.

Mereka juga adalah orang-orang yang telah melakukan futuh (pembebasan negeri lain dengan damai) dan membimbing umat ini menuju tauhid Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan risalah Islam. Mereka juga telah mempersembahkan kepada bangsa-bangsa yang dibebaskannya contoh-contoh teladan Qur'an yang dijadikan sebagai panduan.

4. Imamah Ali dan Keturunannya yang Berjumlah 12 Imam Adalah Pokok Ajaran Syiah. Barangsiapa yang menolak, maka Dia dicap kafir.

Di antara masalah akidah Syiah Imamiyah Itsna 'Asyariyah yang bertentangan dengan Ahli Sunnah adalah, keyakinan Syi'ah bahawa kepimpinan Ali dan keturunannya dari garis Husein merupakan pokok-pokok keimanan, seperti beriman kepada Allah Subhanahu Wa Ta'ala, beriman kepada para malaikat -Nya, beriman kepada kitab-kitab-Nya, beriman kepada para rasul-Nya dan beriman kepada hari akhir. Tidak sah dan tidak akan diterima oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala iman seorang muslim, jika dia tidak beriman bahawa Ali adalah khalifah yang dilantik oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Demikian juga halnya dengan 11 imam keturunan Ali bin Abi Talib. Sesiapa yang berani menolak hal ini atau doubt, maka dia adalah kafir yang akan kekal di neraka. Seperti inilah riwayat-riwayat yang terkandung di dalam Al Kaafiy dan kitab-kitab lain yang mengupas masalah akidah mereka.

Atas dasar inilah, sebahagian besar kaum Syiah mengkafirkan Ahli Sunnah secara umum. Hal ini kerana akidah Ahlu Sunnah berbeza dengan akidah mereka (Syi'ah). Bahkan Ahlu Sunnah tidak mengiktiraf akidah seperti ini dan menganggap bahawa akidah ini adalah batil dan dusta atas nama Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasul-Nya.

Bahkan Syi'ah juga mengkafirkan para sahabat yang tidak mengakui imamah Ali Radhiyallahu 'Anh. Mereka juga mengkafirkan tiga orang khulafa rasyidin sebelum Ali iaitu Abu Bakar, Umar dan Uthman dan para sahabat lain yang menyokong ketiga orang khalifah ini. Kita ketahui bahawa semua para sahabat telah meridhai tiga khulafa rasyidin, termasuk Ali bin Abi Talib yang pada ketika itu Ali lah orang terakhir membaiat Abu Bakar. Kemudian Ali berkata, "Sesungguhnya kami tidak mengingkari keutamaan dan kedudukan anda wahai Abu Bakar. Akan tetapi kami dalam hal ini mempunyai hak kerana kami adalah kerabat (keluarga) Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam. "Akan tetapi Ali tidak menyebutkan bahawa Dia mempunyai nash wasiat dari Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan Rasul-Nya.

Sedangkan kami Ahlu Sunnah menganggap bahawa masalah imamah dan yang berkaitan dengannya termasuk ke dalam furu 'dan bukan termasuk pokok-pokok akidah Islam. Masalah ini lebih baik dikaji di dalam kitab-kitab fiqh dan muamalah dan bukan dikaji di dalam kitab-kitab akidah dan pokok-pokok agama. Walaupun dengan sangat terpaksa para ulama Ahlu Sunnah membicarakan masalah ini di dalam kitab-kitab akidah untuk membantah seluruh ajaran Syiah di dalam masalah ini.

Syaikh Muhammad 'Arfah, seorang anggota Lembaga Ulama Senior Al Azhar pada zamannya, telah menukil dari kitab-kitab akidah milik Syiah Imammiyah Itsna' Asyariyyah sebagai penguat apa yang kami ucapkan tentang mereka. Beliau berkata,

"Jika kita mahu mengkaji kitab-kitab akidah milik orang-orang Syiah, maka kita akan mendapati adanya kesesuaian atas riwayat-riwayat yang mereka sampaikan. Kita pun boleh langsung menukil ajaran mereka yang kita anggap sebagai ajaran yang sangat berbahaya iaitu masalah imamah, ajaran mengkafirkan para sahabat dan tiga orang khulafa rasyidin. Mereka terus mengkafirkan kaum muslimin sejak Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam wafat sampai hari ini. Hal ini disebabkan kaum muslimin tidak pernah mengakui imamah Ali dan 12 imam mereka. Hal ini seperti yang kami kutip dari penghulu ahli hadis Abi Ja'far Ash-Shaduq Muhammad bin Ali bin Husein bin Babawaih Al Qummi yang meninggal dunia pada tahun 381 Hijrah yang merupakan ahli hadis kedua dari tiga ahli hadis (Syiah) yang juga dia itu adalah pengarang kitab yang berjudul, "Man La Yahdhuruh Al Faqih", salah satu kitab dari empat kitab rujukan Syiah di dalam masalah pokok-pokok ajaran mereka. Dia berkata, "Kami berkeyakinan pada orang-orang yang menolak imamah Ali bin Abi Talib dan seluruh imam selepas beliau adalah seperti orang-orang yang menolak nubuwah (kenabian) para nabi. Kami juga berkeyakinan bahawa orang-orang yang mengakui imamah Ali dan menolak satu dari imam selepas Ali adalah seperti orang-orang yang mengakui / beriman kepada para nabi akan tetapi mereka menolak Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam. "Dia juga berkata di dalam" Risalat al I'tiqadat ", bahwasanya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda," Sesiapa yang menolak imamah Ali selepas aku (Rasulullah Shalallahu' Alaihi Wa Sallam), ertinya dia telah menolak kenabianku dan barangsiapa yang menolak kenabianku, ertinya dia telah menolak rububiyah Allah Subhanahu wa Ta'ala. "

Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam telah bersabda, "Wahai Ali, sesungguhnya kelak setelah aku wafat, engkau itu akan dizalimi. Barangsiapa yang menzhalimimu, sama dengan dia telah menzalimi aku; sesiapa yang bersikap adil terhadapmu, sama dengan dia telah bersikap adil terhadap aku, dan sesiapa yang menentang, sama dengan menolak aku. "

Imam Shadiq AS berkata, "Orang yang menolak imam terkini kami, sama dengan menolak imam pertama kami."

Nabi Muhammad Shalallahu 'Alaihi wa Sallam bersabda, "Para imam selepas aku ini ada berjumlah dua belas orang. Imam yang pertama adalah Amirul Mukminin Ali bin Abi Talib AS, dan imam yang terakhir adalah Al Mahdi. Mematuhi kehendak mereka sama dengan mentaati aku dan bermaksiat kepada mereka sama dengan bermaksiat kepada aku. Barangsiapa yang menolak salah seorang dari mereka, sama dengan menolak aku. "Imam Shadiq berkata," Sesiapa yang meragukan tentang kekufuran musuh-musuh kami dan sikap zalim mereka terhadap kami, maka dia dianggap telah kafir. "[1]

5. Dakwaan Wasiat dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam untuk Ali

Dakwaan adanya wasiat dari Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam untuk Ali menjadi khalifah selepas beliau meninggal dunia-seperti keyakinan syiah-sungguh telah merampas hak kaum Muslimin untuk memilih pemimpin dari kalangan mereka sendiri. Itulah wujud pengamalan terhadap perintah musyawarah yang telah dijadikan oleh Allah Subhanahu Wa Ta'ala sebagai ciri khas kaum muslimin, "Sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarah antara mereka," (QS Asy Syura [42]: 38).

Seolah-olah dengan adanya wasiat itu, umat Islam mundur selamanya, sehingga Allah Subhanahu Wa Ta'ala harus menentukan siapa orangnya yang berhak mengurus dan memimpin umat Islam. Juga diharuskan orang yang memimpin umat Islam ini datang dari rumah tertentu dan dari keturunan tertentu dari keluarga rumah ini. Padahal semua manusia adalah sama. Yang jelas bahawa yang berhak memimpin umat Islam adalah orang yang diterima (diredhai) oleh umat Islam dan dia mampu untuk memikul amanah ini dan menakhodai umat ini.

Saya yakin jika Negara Islam yang dipersepsikan oleh Ahlu Sunnah adalah bentuk Negara Islam ideal yang telah digambarkan oleh Al Qur `an dan As Sunnah yang sahih. Iaitu sangat sesuai dengan yang diinginkan oleh masyarakat dunia pada saat ini bahawa rakyat berhak menentukan nasibnya sendiri, tidak menganut teori negara teokrasi atau sebuah sistem yang mana negara dikuasai oleh pemerintahan berasaskan agama (tertentu) atas nama Kerajaan Langit yang membelenggu leher masyarakat dan hati nurani mereka . Semua lapisan masyarakat tidak kuasa atas diri mereka sendiri kecuali harus mengatakan, "Kami mendengar dan kami taat!"

Keyakinan Syi'ah ini dibantah oleh takdir Allah, di mana Imam yang ke-12 mereka sedang bersembunyi, seperti yang mereka yakini. Akhirnya, umat manusia ditinggalkan tanpa imam maksum lebih dari 11 abad. Bagaimana mungkin Allah Subhanahu Wa Ta'ala akan membiarkan umat manusia tanpa imam yang akan membimbing mereka? Ternyata mereka (orang-orang Syiah) berkata, "Kami masih mempunyai Al Qur` an dan As Sunnahuntuk membimbing kami "ketahuilah, justeru kami (Ahli Sunnah) sejak dahulu sudah mengatakan hal ini.

6. Penguasaan Kumpulan Tertentu atas Seluruh Umat Manusia

Keyakinan orang-orang Syiah dibina atas dasar rasa penguasaan (merasa yang lebih) dari seluruh makhluk Allah Subhanahu Wa Ta'ala. Mereka merasa mempunyai kurnia yang sangat besar jika dilihat dari penciptaannya. Mereka ini berhak untuk mengatur orang lain walaupun mereka tidak memilihnya. Hal ini kerana telah menjadi keputusan langit.

Pemikiran seperti ini sangat bertentangan dengan ajaran Islam secara umum. Hal ini disebabkan seluruh manusia adalah sama seperti deretan sisir. Hanya ada satu Tuhan bagi seluruh umat manusia dan mempunyai nenek moyang yang sama iaitu Adam 'Alaihis Salam. Mereka semua diciptakan dari bahan yang sama, iaitu sperma. Oleh kerana itu, tidak ada rasa superioriti seorang manusia atas manusia yang lain kecuali dengan taqwanya. Hal ini seperti yang telah dijelaskan di dalam Al Quran, "Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal. Sungguh, yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Mahateliti, "(QS Al Hujurat [49]: 13).

Sesungguhnya manusia itu diutamakan atas yang lain hanya kerana amal perbuatan, dan bukan kerana faktor keturunan. Sebab siapa yang amalnya lambat, maka titisannya tidak akan mempercepatkan langkahnya meraih redha-Nya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman, "Apabila sangkakala ditiup, maka tidak ada lagi pertalian keluarga di antara mereka pada hari itu (hari Kiamat), dan tidak (pula) mereka saling bertanya," (Surah Al Mu `minun [23]: 101). Kemudian Allah Subhanahu Wa Ta'ala menyebutkan bahawa yang akan menghukum umat manusia di hari Kiamat adalah Al Mizan yang tidak akan menzalimi seorang pun. Manusia lah yang memilih para pemimpin dalam rangka musyawarah. Manusia berbaiah kepada para pemimpin dengan syarat jangan melanggar batasan-batasan Allah Subhanahu Wa Ta'ala dan hak-hak manusia.

Hanya Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam saja satu-satunya orang yang dipilih oleh wahyu, "Allah lebih mengetahui di mana Dia menempatkan tugas kerasulan-Nya," (Surah Al An'am [06]: 124). Selain beliau, hanya manusia biasa dan tidak dipilih oleh wahyu.

Kemudian kenyataan sejarah menunjukkan bahawa orang-orang yang mengaku berhak menduduki sebuah jabatan kerajaan atas dasar nas (Al Qur `an / As Sunnah), ternyata mereka itu tidak menduduki jawatan apa-apa. Justeru mereka hidup seperti manusia pada umumnya (rakyat biasa), mendapatkan persamaan di dalam undang-undang. Kecuali Ali bin Abi Talib yang dibaiat oleh kaum Muslimin menjadi khalifah. Kerana jika dilihat dari sisi keilmuan, beberapa imam 'maksum' keturunan Ali tidak dikenali sebagai orang yang unggul kecerdasannya dan layak menjadi imam. Namun ada sebahagian dari keturunan Ali termasuk ke dalam tokoh besar di bidang fiqh, seperti Muhammad Al Baqir dan Ja'far Ash-Shadiq seperti imam-imam fiqh yang lain.

7. Penyebaran Bid'ah di Kalangan Syiah

Di antara yang harus diperhatikan dari Syi'ah iaitu berlakunya penyebaran bid'ah yang mengandung kemusyrikan di kalangan para pengikut Syiah. Mereka menyembah kubur dan laman-laman web para imam dan syaikh mereka. Mereka berani bersujud ke kuburan, meminta pertolongan kepada ahli kubur dan berdoa meminta kebaikan untuk para peziarahnya dan supaya terbebas dari segala macam marabahaya. Menurut mereka bahawa para ahli kubur tersebut boleh mendatangkan manfaat dan bahaya, boleh membuat miskin dan kaya seseorang dan boleh membuat seseorang senang mahupun sengsara.

Saya (Syaikh Yusuf Al Qardhawi) pernah melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana para penziarah kubur Imam Ridha bersujud sambil merangkak ke arah kuburan beliau dari jarak sepuluh meteran. Tentu hal ini boleh terjadi kerana kerelaan dan anjuran dari para ulama Syiah.

Hal ini berbeza dengan perilaku orang-orang awam Ahlu Sunnah pada saat mereka melakukan ziarah ke kuburan para wali dan Ahlul Bait yang kedapatan berkelakuan menyimpang dan bid'ah. Akan tetapi, perilaku ini ditolak keras oleh para ulama Ahlu Sunnah. Inilah perbezaan yang mendasar antara kami (para ulama Ahlu Sunnah) dengan mereka (para ulama Syiah). Iaitu para ulama Ahlu Sunnah mengecam perilaku mungkar yang dilakukan oleh orang-orang awam. Bahkan ada sebahagian para ulama Ahlu Sunnah yang mengkafirkan perilaku orang-orang awam ini. Akan tetapi perilaku mungkar dan syirik yang dilakukan oleh orang-orang awam Syiah adalah diredhai dan mendapat sokongan dari para ulama mereka.

8. Syi'ah Melakukan Distorsi Sejarah

Sesungguhnya Syi'ah telah memburuk-burukkan para sahabat, tabiin, dan para pengikut mereka. Juga mereka berani mengubah alur sejarah umat Islam sejak zaman yang paling baik (zaman Rasulullah Shalallahu 'Alaihi wa Sallam dan para sahabatnya dan generasi selepas ini). Iaitu zaman terjadinyafutuh (pembebasan negeri dengan cara damai) dan kemenangan gilang gemilang serta berbondong-bondongnya umat manusia masuk Islam. Juga terbangunnya kebudayaan yang merujuk kepada ilmu pengetahuan, iman dan akhlak juga umat Islam ini mempunyai sejarah yang sangat gemilang. Sekarang umat Islam cuba untuk bangkit kembali dengan cara berkaca kepada sejarahnya, menyambungkan masa sekarang dengan zaman dahulu. Menjadikan kemuliaan para pendahulu umat Islam sebagai figur untuk menggalakkan generasi muda kini untuk maju dan jaya.

Sedangkan sejarah orang-orang Syiah dipenuhi dengan kegelapan. Inilah yang mendorong saya untuk menulis sebuah buku berjudul, "Tarikhuna Al Muftara 'Alayhi"-Sejarah Kita yang diselewengkan-. Buku ini mengupas sejarah yang benar dan membantah semua tuduhan busuk orang-orang Syiah. Buku saya ini membuat orang-orang Syi'ah gerah. Kemudian salah seorang Syi'ah menulis sebuah buku membantah buku saya ini. Dia berkata, "Yusuf Al Qardhawi ini Wakil Allah Subhanahu Wa Ta'ala atau Wakil Bani Umayyah?" [2]

9. ajaran Taqiyyah

Di antara ajaran Syiah yang berkaitan dengan akhlak adalah menjadikan Taqiyyah sebagai dasar dan pokok ajaran di dalam berinteraksi dengan orang lain. Mereka selalu melakukan Taqiyyah, iaitu menampakkan sesuatu yang berbeza dengan yang ada di dalam hati. Mereka itu mempunyai dua wajah. Wajah yang pertama dihadapkan ke sekumpulan orang dan wajah yang lain dihadapkan ke kelompok yang satunya lagi. Mereka juga mempunyai dua lidah.

Mereka berdalih dengan firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, "Janganlah orang-orang beriman menjadikan orang kafir sebagai pemimpin, melainkan orang-orang beriman. Barangsiapa berbuat demikian, nescaya dia tidak akan memperoleh apa pun dari Allah, kecuali kerana (siasat) menjaga diri dari sesuatu yang kamu takuti dari mereka, "(QS Ali Imran [03]: 28). Akan tetapi, dengan sangat jelas ayat menerangkan bahawa dibolehkannya Taqiyyah adalah pada saat kecemasan yang memaksa seorang muslim harus melakukan hal ini (Taqiyyah) kerana takut dibunuh atau ada bahaya besar yang mengancamnya. Keadaan seperti ini masuk ke dalam pengecualian, seperti firman Allah Subhanahu Wa Ta'ala, "Barangsiapa yang kafir kepada Allah setelah dia beriman (dia mendapat kemurkaan Allah), kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman," (Surah An-Nahl [16]: 106).
 
Pengecualian ini tidak boleh dijadikan sebagai acuan di dalam bermuamalah. Hal ini (Taqiyyah) boleh dilakukan pada saat kecemasan, yang mana keadaan darurat boleh menghalalkan sesuatu yang terlarang. Akan tetapi tetap perlu dihitung secara cermat. Bagi orang lain yang tidak terpaksa, tidak boleh melakukan hal ini. Kerana sesuatu yang terjadi atas dasar pengecualian tidak boleh dikiaskan.

Akan tetapi Syiah Imamiyah menjadikan Taqiyyah ini sebagai asas di dalam muamalah mereka kerana para imam mereka membenarkan hal tersebut. Dari Ja'far As Shadiq bahawa dia telah berkata "Taqiyyah adalah agamaku dan agama leluhurku." Ibnu Taimiyyah berkata mengulas ucapan ini, "Allah Subhanahu Wa Ta'ala telah menyucikan Ahlul Bait dari hal ini dan mereka tidak memerlukan Taqiyyah. Kerana mereka adalah orang-orang yang paling jujur dan paling beriman. Oleh kerana itu, agama mereka adalah Taqwa dan bukan Taqiyyah. "


Sikap Al-Azhar Mesir tentang ‘Taqrib’ Sunni-Syiah

Oleh: Fahmi Salim

BARU-BARU ini seiring pemberitaan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Organisasi Konferensi Islam (OKI) ke-12 yang dilaksanakan di Kairo ibukota Mesir dan turut dihadiri Presiden SBY, hasil pertemuan Grand Syeikh Al-Azhar Mesir dengan Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad, menjadi pusat perhatian umat Islam tak hanya di Mesir tetapi juga di dunia Islam. Apalagi ditengah situasi yang menghangat soal relasi Sunni – Syiah pasca Arab-Spring (revolusi dunia Arab), dan imbasnya sampai ke Indonesia dengan kasus penodaan agama oleh Tajul Muluk, pemimpin Syiah di Sampang.

Dalam sebuah pernyataan resmi ketika menerima kunjungan Presiden Iran, Mahmud Ahmadinejad, di Masyikhatul Azhar pada hari Rabu 6 Februari 2013, Grand Syeikh Al-Azhar Cairo, Prof. Dr. Ahmad Al-Tayyib mengatakan, “Meski para ulama besar Al-Azhar terdahulu pernah terlibat di dalam berbagai konferensi persatuan Islam antara Sunni dan Syiah guna melenyapkan fitnah yang memecah belah umat Islam, penting saya garis bawahi bahwa seluruh konferensi itu nyatanya hanya ingin memenangkan kepentingan kalangan Syiah (Imamiyah) dan mengorbankan kepentingan, akidah dan simbol-simbol Ahlus Sunnah, sehingga upaya taqrib itu kehilangan kepercayaan dan kredibilitasnya seperti yang kami harapkan. Kami juga sangat menyesalkan celaan dan pelecehan terhadap para sahabat dan istri Nabi SAW yang terus menerus kami dengar dari kalangan Syiah, yang tentu saja hal itu sangat kami tolak. Perkara serius lainnya yang kami tolak adalah upaya penyusupan penyebaran Syiah di tengah masyarakat Muslim di Negara-negara Sunni.”

Selain itu Syeikh Al-Thayyib menyinggung kondisi memilukan Ahlus Sunnah di Iran yang menurut beliau, “Banyak dari mereka yang mengadukan kepada kami kondisi dan hak-hak mereka. Saya memandang, tidak boleh hak-hak warga Negara didiskriminasi dan dikerdilkan seperti yang disepakati oleh system politik modern dan diatur syariat Islam.”

(Sumber :http://onazhar.com/page2home2.php?page=3&page1=4 page2=2810)

Sebelumnya, dalam berbagai kesempatan Grand Syeikh Al-Azhar, Prof. Dr. Ahmad At-Thayyib, menyatakan seperti dilansir Koran Ahram (09/11/2012) bahwa Al-Azhar menolak keras penyebaran ajaran Syiah di negeri-negeri Ahlus Sunnah, karena hal itu akan merongrong persatuan dunia Islam, mengancam stabilitas negara, memecah belah umat dan membuka peluang kepada zionisme untuk menimbulkan isu-isu perselisihan mazhab di Negara-negara Islam.

Selain penolakan terhadap ekspor mazhab Syiah (Syiahisasi) ke negara-negara Sunni, kaum Rafidhah berlindung di balik konsensus Deklarasi Amman untuk legitimasi penyebaran Syiah. Risalah Amman yang selama ini selalu menjadi landasan bagi Syiah menebarkan pengaruhnya bukanlah kesepakatan pembenaran atas penyimpangan akidah.

“Risalah Amman bukanlah cek kosong, Risalah Amman bukan pula kesepakatan pembenaran atas keyakinan menyimpang Rafidhah, yaitu doktrin caci-maki kepada para pembesar Sahabat dan isteri Nabi Shallallahu ‘alaihi Wassalam, apalagi pembenar doktrin tahrif,” kata seorang pakar Syiah Prof. Mohammad Baharun, yang juga mengetuai Komisi Hukum dan Perundang-undangan MUI. Solusi damai antara Syiah dan Sunni justru dengan membuat jarak yang jelas dan tidak mengelabui umat. “Karena perbedaannya bukan di ranah mazhab fiqih saja, melainkan keyakinan akidah,” ujarnya. [baca: Pakar Syiah Indonesia Dukung Langkah Syeikh Al Azhar]

Risalah Amman 2005 juga tidak mengikat seluruh ulama yang hadir. Faktanya adalah Syeikh Dr. Yusuf Al-Qaradhawi (Ketua Persatuan Ulama Islam Internasional) yang ikut tercantum namanya sebagai penandatangan Risalah Amman, telah merilis tiga fatwa tentang Syiah Imamiyah di dalam kitab “Fatawa Mu’ashirah” jilid 4 yang terbit pada tahun 2009. Dalam fatwanya, beliau membongkar kesesatan Syiah Imamiyah dengan membentangkan pokok-pokok perbedaan akidah antara Ahlus Sunnah dan Syiah, hukum mencaci para sahabat Nabi dan sikapnya tentang pendekatan (taqrib) Sunni-Syiah pasca Muktamar Doha-Qatar tanggal 20-22 Januari 2007.

Tampak dari fatwa Syeikh Al-Qaradhawi (2009) bahwa kaum Syiah masih dikategorikan Muslim (seperti tertulis dalam Risalah Amman), tapi itu tidak berarti golongan Muslim tersebut bersih dan terbebas dari kesesatan terutama dalah hal-hal pokok akidah sebagaimana dijelaskan panjang lebar oleh Qaradhawi.

Di dalam fatwanya al-Qardhawi, yang juga anggota dewan tinggi ulama senior (‘Hai’ah Kibar Ulama’) Al-Azhar menegaskan sikapnya terhadap gagasan ‘Taqrib’,

“Sesungguhnya sejak saya ikut serta di dalam Muktamar Pendekatan Madzhab (Taqrib), saya telah menemukan beberapa poin penting yang membuat pendekatan ini tidak akan terjadi jika poin-poin ini diabaikan atau tidak diberikan hak-haknya. Semua ini telah saya jelaskan dengan sejelas-jelasnya pada saat kunjungan saya ke Iran 10 tahun yang silam. Di sini saya hanya mengacu kepada 3 perkara:

Pertama, kesepakatan untuk tidak mencerca para sahabat. Karena kita tidak bisa dipertemukan atau didekatkan jika masih seperti itu. Karena saya mengatakan: Semoga Allah meridhai mereka (para sahabat), sedangkan engkau (Syi’ah) berkata: Semoga Allah melaknat mereka. Sedangkan antara kata ridha dan laknat memiliki perbedaan yang sangat besar.
Kedua, dilarang menyebarkan sebuah madzhab di sebuah daerah yang dikuasi oleh madzhab tertentu. Atau seperti yang dikatakan oleh Syeikh Muhammad Mahdi Syamsuddin dengan istilah pengsyi’ahan (ekspor madzhab Syi’ah ke negara lain). Ketiga, memperhatikan hak-hak minoritas, terutama jika monoritas tersebut adalah madzhab yang sah.

Inilah sikap saya. Saya tidak akan menjadi penyeru kepada ‘peleburan prinsip’ atau menjadi orang-orang yang berhamburan kepada usaha taqrib (pendekatan Sunni – Syi’ah) tanpa syarat dan ketentuan. Karena saya melihat bahwa muktamar ini hanya seremonial saja. Akan tetapi tidak memecahkan akar permasalahannya dan tidak ada ujung pangkalnya. Muktamar tersebut hanya sebatas basa basi dan tidak menghasilkan apa-apa setelahnya. Saya putuskan bahwa saya harus menjelaskan sesuatu yang ada di dalam diri saya kepada seluruh kaum Muslimin. Saya tidak akan menyembunyikan sesuatu yang dianggap penting di dalam (menjaga) muamalah. Hal ini lah yang dituntut oleh sifat amanah dan tanggung jawab dan perjanjian yang telah diambil oleh Allah terhadap para ulama, ”Hendaklah kamu benar-benar menerangkannya (isi Kitab itu) kepada manusia, dan janganlah kamu menyembunyikannya,” (QS Ali Imran [03]: 187).”

Syeikh Qaradhawi menceritakan pengalaman bahwa taqrib di dunia Islam hanya menguntungkan pihak Syiah, yang mendukung pernyataan Grand Syeikh Al-Azhar saat ini Prof. Ahmad Al-Thayyib;

“Pada tahun 60-an yang lampau, Syeikh Mahmud Syaltut sebagai Grand Syeikh Al-Azhar telah mengeluarkan sebuah fatwa yang membolehkan beribadah dengan memakai madzhab Ja’fari. Dengan alasan di dalam pembahasan fikihnya lebih mendekati kepada Madzhab Ahlu Sunnah, kecuali ada perbedaan sedikit saja yang tidak menjadi alasan untuk melarang beribadah dengan memakai madzhab Ja’fari secara keseluruhan, seperti dalam hal shalat, puasa, zakat, haji dan muamalah. Akan tetapi fatwa ini tidak pernah dibukukan dalam Himpunan Fatwa Syaltut. Fatwa Syaikh Syaltut ini sebagaimana yang disebutkan tidak merambah ke permasalahan akidah dan ushuluddin (pokok-pokok agama Islam) yang di dalamnya mengandung perbedaan yang sangat jelas antara Ahlu Sunnah dengan Syi’ah. Contohnya dalam hal imamah, 12 imam Syi’ah, kemaksuman imam, pengetahuan mereka terhadap hal gaib dan kedudukan mereka yang tidak ada yang bisa mencapainya walaupun oleh malaikat yang sangat dekat (dengan Allah SWT) dan tidak juga oleh nabi yang diutus. Mereka beranggapan bahwa masalah ini adalah masalah penting yang termasuk masalah ushuluddin. Tidak sah iman dan Islam seseorang kecuali dengan mengimani masalah ini. Orang yang menolaknya dianggap kafir, akan kekal di neraka. Juga contoh lainnya yaitu akidah orang-orang Syi’ah terhadap para sahabat dan hal-hal lainnya yang mereka anggap sebagai pokok-pokok agama mereka.

Di samping itu, kami belum pernah menemukan ada orang Syi’ah yang membalas kebaikan dengan kebaikan atau ada yang menjawab salam dengan jawaban yang lebih baik atau dengan salam serupa. Sebab tidak ada dari para ulama senior Syi’ah yang selevel dengan Syaikh Syaltut di kalangan Ahlu Sunnah, baik yang berada di Qum maupun di Najaf yang mengeluarkan fatwa bagi para pengikutnya bahwa boleh beribadah dengan menggunakan madzhab Ahlu Sunnah, meskipun mereka itu (Ahlus Sunnah) tidak perlu hal ini.”

Syeikh Qardhawi dalam fatwanya juga meluruskan makna ‘Taqrib’ agar tidak menjadi bias dan kamuflase terhadap upaya penyebaran ajaran Syiah;

“Seluruh peserta muktamar taqrib madzhab dan putusannya mengatakan bahwa pendekatan itu (terjadi) antar madzhab di dalam Islam. Menurut saya bahwa maksud dari ungkapan ini tidak pas. Karena kalimat madzhab telah menjadi istilah yang mapan bagi madzhab fikih Sunni yang empat yang sudah dikenal, yaitu Hanafiyah, Malikiyah, Syafi’iyyah dan Hanbaliyah. Kemudian ditambah dengan madzhab Zhahiriyah juga Zaidiyyah, Ja’fariyyah dan Ibadhiyyah. Adapun perbedaan di antara madzhab-madzhab ini hanya berkisar di dalam masalah furu’ dan amaliah yang tidak sampai menyentuh permasalahan akidah, pokok-pokok keimanan dan ushuluddin (pokok-pokok agama). Maka perbedaan dalam masalah furu, fikih atau ibadah adalah bukan faktor yang berpengaruh di dalam hubungan antara Sunni dan Syi’ah. Sangat penting digarisbawahi bahwa perbedaan antara Sunni dan Syi’ah adalah perbedaan di dalam masalah akidah seperti yang telah saya jelaskan sebelumnya di dalam masalah pendekatan madzhab. Perbedaan dalam akidah inilah yang telah menjadi penyebab tumbuhnya berbagai macam golongan, seperti Mu’tazilah, Jabariyyah, Murji`ah, Syi’ah, Khawarij, Asy’ariyyah, Maturidiyyah, Salafiyyah dan lain-lainnya. Oleh karena itu, jika memungkinkan, aktifitas ‘Taqrib’ lebih tepat disebut sebagai pendekatan antar golongan/firqah (akidah) dan bukan pendekatan antar madzhab (fikih). Karena fikih tidak memerlukan pendekatan. Pun jika kita permudah istilah dengan menyatakan madzhab-madzhab, maka yang kita maksudkan disini adalah madzhab-madzhab akidah dan bukan mazhab-mazhab fikih.”

Lebih jauh al-Qardhawi dalam fatwanya itu, mengungkapkan perbedaan mendasar dalam hal pokok antara Sunni dan Syiah yang tak bisa disatukan.

“Contoh perbedaan di dalam masalah akidah, yaitu khususnya di dalam masalah imamah. Karena mereka (orang-orang Syi’ah) berkeyakinan bahwa imamah adalah pokok akidah mereka dan termasuk ke dalam rukun akidah mereka. Sedangkan kita (Ahlu Sunnah) menganggapnya hanya sebagai furu’ (cabang) saja dan bukan ushul; atau termasuk amaliyah dan bukan sebagai akidah. Akan tetapi imamah di dalam ajaran Syi’ah merupakan pokok ajaran mereka. Karena pokok ajaran mereka bersandar kepada: Al-Washiyah (wasiat politik kepada Ali), Al-Imamah (kepemimpinan Ali dan keturunannya), Al-Ghaibah (masa menghilangnya imam ke-12) dan Ar-Roj’ah (kembalinya Al-Mahdi ke dunia sebelum kiamat untuk menumpas musuh-musuh imam Ahlul Bait). Ajaran Syi’ah menyebutkan masalah imamah dengan sangat tegas. Mereka mengatakan barangsiapa yang tidak beriman kepada imamah ini, maka tidak dianggap sebagai orang yang beriman. Mereka juga mengatakan bahwa imamah ini berasal dari Rasulullah SAW, yang dimulai dari Ali RA kemudian dikuti oleh sebelas imam setelah Ali RA. Di dalam kitab Ushul Al-Kafi dari Abi Ja’far (Al-Baqir) bahwasanya dia telah berkata, “Islam itu dibangun di atas 5 dasar: Shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah (kekuasaan). Tidak ada rukun yang lebih ditekankan kecuali rukun al-wilayah ini. Akan tetapi manusia hanya mengambil empat perkara dan mereka meninggalkan rukun ini, yaitu al-wilayah.” (Ushul Al-Kafi, jilid 2 hal. 18).

Dari Zurarah dari Abu Ja’far dia berkata, ”Islam itu dibangun di atas lima perkara: Shalat, zakat, haji, puasa dan al-wilayah.” Zurarah berkata: Aku bertanya kepadanya: ”Manakah di antara semua itu yang paling utama?” Abu Ja’far menjawab, ”Al-wilayah lebih utama, karena al-wilayah adalah kunci dari semua rukun itu.” (Ushul Al-Kafi, jilid 2 hal. 18). Al-Kulaini meriwayatkan dengan sanadnya dari Ash-Shadiq (AS) bahwasanya beliau bersabda, ”Dasar Islam itu ada tiga: Shalat, zakat dan al-wilayah. Tidak sah salah satu dari ketiga rukun ini kecuali dengan menyertakan dua rukun lainnya.” (Ushul Al-Kafi, jilid 2 hal. 18).

Di dalam masalah al-wilayah tidak ada rukhshah (keringanan). Dari Abu Abdullah dia berkata,

”Sesungguhnya Allah telah mewajibkan lima perkara kepada umat Nabi Muhammad SAW: Shalat, zakat, puasa, haji dan wilayah (pemerintahan) kami. Allah telah memberikan keringanan di dalam rukun yang empat. Akan tetapi Allah tidak memberikan keringanan kepada seorang muslim pun di dalam hal meninggalkan wilayah (pemerintahan) kami. Tidak, demi Allah. Sesungguhnya tidak ada keringanan di dalam masalah al-wilayah.” Dalam sebuah riwayat disebutkan, ”Islam dibangun atas: Bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan bersaksi bahwasanya Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan shalat, membayar zakat, puasa di bulan ramadhan, melaksanakan ibadah haji ke baitullah dan wilayah (pemerintahan) Ali bin Abi Thalib.” (Ushul Al-Kafi, jilid 2 hal. 21).

Bahkan pada kenyataannya mereka (orang-orang Syi’ah) tidak hanya berpegang kepada masalah al-wilayah (pemerintahan Ali) saja. Justru mereka melampauinya sampai ke taraf uluhiyah (ketuhanan). Akhirnya mereka menganggap Ahlu Sunnah bukanlah orang-orang yang beriman kepada Tuhan yang diimani oleh Syi’ah. Inilah salah satu titik perbedaan yang paling mendasar. Ni’matullah Al-Jazairi (wafat 1212 H) misalkan di dalam kitab Al-Anwar An-Nu’maniyyah menulis tentang Ahlu Sunnah wal Jama’ah, ”Sesungguhnya kami tidak bisa bertemu dengan mereka (Ahlu Sunnah) di dalam satu tuhan dan tidak dalam satu nabi dan satu imam. Hal ini dikarenakan mereka (Ahlu Sunnah) berkata, ”Sesungguhnya Rabb mereka adalah yang Muhammad sebagai nabi-Nya dan Abu Bakar sebagai khalifahnya. Akan tetapi kami tidak mengatakan dengan tuhan ini dan tidak juga dengan nabi itu. Akan tetapi kami mengatakan, ”Sesungguhnya tuhan yang khalifahnya (yang benar: Khalifah nabinya) adalah Abu Bakar adalah bukan tuhan kami dan nabi itu juga bukan nabi kami.” (Al-Anwar An-Nu’maniyah jilid 2 hal. 279, cetakan Yayasan Al-A’lami Beirut Libanon).”

Demikian uraian yang dapat penulis ketengahkan kepada pembaca sekalian mengenai sikap institusi ilmiah terbesar Sunni yaitu Al-Azhar Al-Syarif melalui berbagai pernyataan dan pemikiran fatwa para tokoh kuncinya yaitu Prof. Dr. Ahmad Al-Thayyib dan Prof. Dr. Yusuf Al-Qaradhawi.

Pandangan kedua tokoh Muslim terkemuka itu sangat patut dipertimbangkan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat dan Daerah, tokoh-tokoh cendekiawan serta Ormas-ormas Islam di Indonesia, bahkan oleh jajaran Pemerintah Republik Indonesia untuk menyikapi perkembangan Syiah dan infiltrasinya melalui jalur pendidikan dan beasiswa serta penerbitan yang menyerang ajaran Sunni di Indonesia, agar kehidupan keagamaan berlangsung harmonis demi kokohnya NKRI yang islami dan didukung seluruh elemen umat Islam.

Komisi Pengkajian MUI dan Majelis Tarjih PP Muhammadiyah
Rep   :Administrator
Editor: Cholis Akbar

 

Resensi Akhir Zaman • All Rights Reserved