22 Maret 2013

0 Asal Usul Dajjal [ 2 ]

Cerita tengah Dajjal ini merujuk kepada manuskrip-manuskrip kuno dan bukan dari hadist, kecuali pada beberapa bagian yang sesuai dengan kondisi beberapa hadist Rasul tentang Ibnu Shayyad, hadist Rasul tentang Tamim Ad-Dari dan tafsir Al-Qur’an Surah Thaha, ayat 83 – 98.

KECERDASAN DAN KEMAMPUANNYA

Selanjutnya didalam Manuskrip kuno itu tertulis kisah :

Pada suatu pagi, ketika umur anak itu mencapai 8 tahun, mulailah kedua matanya terbuka diiringi dengan kesadaran hatinya. Ia berjalan-jalan mengelilingi pulau itu dan mendapati dirinya hanya seorang diri disana. Tiba-tiba ia dikejutkan oleh seekor binatang besar dan berbulu sangat lebat, binatang itu berbicara kepadanya dengan bhasa yang dapat dipahaminya dengan baik.

Binatang itu berkata, “Engkau adalah seorang anak yang diselamatkan oleh Allah dari gempa dahsyat ketika bumi terjungkir, yang trjadi di negeri Samirah. engkau dibawa oleh Malaikat yang agung, ia membawamu kesini. Ia mengurus makan dan minummu. Oleh karena itu janganlah engkau mengkhianati janjimu kepada Allah. Sebab, dalam hati setiap anak Adam telah tertanam ketundukan kepada Allah dan keimanan kepada-NYA selama ia masih berada dalam fitrah kesuciannya. Karenanya, engkau sendiri mesti menjadi Muslim dan Mukmin yang yakin dan taat kepada Tuhan Pencipta Alam ini. Dialah Tuhan Yang Maha Esa”.

Kemudian binatang itu memberi isyarat kepadanya untuk mengikutinya dan menunjukkan kepadanya sebuah panel batu. Disana tertera tulisan2, binatang itu mengajarinya huruf demi huruf dan iapun menirukannya. Lalu binatang itu menunjukkan kepadanya panel batu yang lain, yang mempunyai tulisan-tulisan :


1. Pertama, “La ilaha illallah”

2. Kedua, “Allahu Wahid la Syarika lahu”

3. Ketiga, “Engkau diurus oleh Malaikat Agung, karena itu janganlah kamu mengkhianati janjimu kepada Allah”

4. Keempat, “Hanya engkau saja dipulau ini”

5. Kelima, “Makanlah dan nikmatilah makanan dari rezeki Tuhanmu ini sesuai dengan kehendakmu. Tidurlah sesukamu. Sembahlah Allah dalam berbagai keadaanmu dengan tasbih-tasbih keesaan kepada-NYA. Allah lah Sang Raja. Allah lah Mahaesa. Dia tidak berayah dan tiada mempunyai anak. Allah lah yang Mahabesar. Allah lah yang Mahaagung dan Allah lah yang Maharaja”.

6. Keenam, “Jadilah engkau anak masa kini, wahai anak kecil. Janganlah engkau menjadi anak masa lalu di pulau ini pada zaman apapun”.

7. Ketujuh, “Tidak ada kitab bagimu kecuali apa yang dibawa kepadamu oleh seorang Nabi terakhir, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang datang menjelang akhir jaman. Jika engkau mengimaninya, maka engkau adalah manusia masa depan yang beriman dan mempunyai keyakinan kepada Allah. Jika engkau mengingkarinya, maka engkau adalah manusia masa depan yang dijanjikan akan mendapat siksaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.


Sesungguhnya engkau berada diantara dua nabi yang berserah diri kepada Allah dan sebenarnya semua nabi berserah diri kepada Allah. Jika engkau beriman dan yakin kepada apa yang kami imani dan yakini, maka Allah akan memudahkanmu untuk mengimani penutup para nabi yang terdahulu dan pengganti nabi yang telah wafat. Ia bernama Muhammad Al-Amin. Ia akan lahir sebagai Nabi dan Rasul ditengah-tengah kaum yang buta huruf. Ia berhijrah ketempat yang banyak ditumbuhi pohon korma, dan banyak mata air dan sumur tawarnya dengan tanah subur.

Jika engkau mendustakan nabi yang mendahului Muhammad, maka Allah akan menutup hatimu dengan tabir rain (hijab hati = suatu tabir yang merupakan siksaan Allah kepada hati anak Adam jika ia berpaling dari Tuhan) yang hitam. Hatimu menjadi hitam dan condong kepada keburukan. Sehingga hatimu tidak dapat melihat cahaya, dan akalmu hanya melihat dirimu sendiri saja seperti Iblis, semoga laknat Allah tertimpa atasnya, dan alangkah jeleknya seseorang yang ditemani makhluk tekutuk dan dijauhkan dari rahmat Allah SWT, yang dibiarkan saja berada di suatu lautan yang penuh hembusan angin kelak ketika Allah SWT tidak lagi menyayangi orang-orang yang terusir dari Rahmat-NYA (maksudnya kiamat).

Jadilah engkau – wahai anak istimewa yang diurus oleh Malaikat Agung – sebagai mukmin yang mempercayai eksistensi Allah dan mAlaikat-NYA serta Rasul-NYA. Jika tidak, engkau ada dalam bahaya dan dimasukkan kedalam penjara seribu tahun lamanya. Yang memperingatkanmu (maksudnya : yang mengingat akan dirimu) dan menggembirakanmu didalam penjara adalah seorang Arab Mekkah yang mendustakan Nabi yang jujur itu.

Tempat Hijrahnya adalah tanah-tanah subur yang banyak ditumbuhi pepohonan dan juga pohon korma. Engkau akan berjasa pada hari ketika musimnya memetik kurma dinegeri tempat di-isra’-kan dan di-mi’raj-kannya Nabi dari bangsa Arab itu. Ada banyak air melimpah yang mengalir dan meresap kedalam tanah didataran tinggi dan di tanah thabariyyah. Haram atas dirimu memasuki kota Makkah, yang dimuliakan Allah. Engkau boleh memasuki tanah manapun yang subur kecuali tanah Uhud. Uhud adalah gunung yang mencintai Allah dan Allah mencintainya pula. Engkau juga tidak boleh memasuki negeri Quds tempat isra’ dan mi’raj-nya Nabi paling akhir. -  (Isi manuskrip ini nantinya akan sesuai dengan kondisi Hadist Rasul tentang Tamim Ad-Dari).

Ini adalah ilmu Allah untukmu yang ditulis oleh Malaikat Agung, pembawa wahyu (amin al-wahi) dan dia meninggalkan bekas untukmu, disamping batu besar, berupa cincin darinya, utusan Tuhan semesta Alam”.

Hewan besar itu menerangkan makna-makna semua tulisan itu, “Dan tidaklah Kami menyiksa sehingga Kami mengutus seorang Rasul” – (QS-Al-Isra’, 15).

Hewan itu juga menerangkan bahwa ia diberi kebebasan untuk memilih apakah dimasa yang akan datang ia menjadi orang baik-baik ataukah orang jahat. Jika ia memilih menjadi baik, maka ia akan menjadi seorang laki-laki biasa (maksudnya tidak termasuk manusia yang ditangguhkan ajalnya) dan raja yang beruntung.

Tetapi, bila ia memilih menjadi jahat, maka ia akan memerintah, menjadi raja tetapi dalam waktu yang relatif singkat saja. Ihwal kesudahannya, hanya Allah yang tahu.

Selanjutnya hewan itu berkata, “Aku diperintahkan untuk berdiam disini, dipulau ini bersamamu sehingga engkau menentukan pilihan hidupmu. Ajalku disini bersama dengan keluarnya engkau menuju pilihanmu”.

RAHASIA PENGARUH RASUL PADA 7 BATU BESAR  DAN SURAH  THAHA, 83-98

Hari demi hari, ia tumbuh semakin besar hingga mencapai umur 20 tahun. Tetapi ia belum pernah 1 haripun menunaikan ibadahnya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sementara itu binatang besar itu memberi isyarat, dengan gerakan tidak jelas kepadanya, seolah-olah mengingatkannya pada sesuatu hal penting yang dilupakannya. Tetapi ia tampaknya bersikap sombong dan meremehkan isyarat binatang itu, lalu ia berpaling darinya.

Anak muda itu merasa sangat menikmati pulau itu, sehingga ia merasa seakan-akan dirinya adalah Raja ditempat itu, raja tanpa rakyat.

Suatu hari ia menengadah ke langit dan berkata, ‘Siapakah yang mengetahui bahwa perkataanmu, wahai binatang, adalah benar? Sungguh aku hanya sendirian. Aku pun tidak pernah melihat Malaikat yang diutus Allah itu. Aku juga tidak pernah menyaksikan gempa bumi atau kehancurannya, bahkan aku tidak melihat Allah. Aku juga tidak mengetahui bahwa tulisan pada panel batu itu adalah dari Malaikat yang Agung, sehingga aku tidak menghukumi sebagaimana aku menghukumi dan menguasai pulau ini. Boleh jadi, tulisan itu hanyalah kebohongan semata”.

Mendengar kata-katanya itu, maka menjeritlah binatang besar itu dan berlari dengan kencang menjauh. Melihat hal itu, berkatalah Dajjal, “Aku tidak tahu....aku tdak tahu ada yang lain selainku disini. Sesungguhnya segala sesuatu disekitarku tunduk kepadaku. Semua benda disekitarku ini mengaku bahwa aku ini tuhan, penguasa pulau ini. Semua benda disekitar pulau ini sebetulnya berada dibawah kekuasaanku”.

Begitulah Dajjal telah dipermainkan oleh pikirannya sendiri.

Maka pada hari berikutnya, binatang itu menemuinya dan berkata, “Sesungguhnya Jibril menyuruhku untuk menemuimu dan berbicara denganmu, bahwa engkau dihadapkan pada masalah sangat serius dan penting. Meskipun demikian, engkau mempunyai hak penuh untuk menentukan pilihan. Yakinlah bahwa hal ini datang dari Jibril yang menggoreskan tangannya pada kertas ini. Letakkanlah tanganmu pada apa saja, maka engkau akan menemukan suatu tanda bagi kepentinganmu. Lalu sembahlah Allah, Tuhanmu Yang Maha penyayang. Jika engkau tidak melakukannya, maka hal itu menjadi peringatan bagimu yang menegaskan bahwa kelak engkau akan menajdi makhluk yang dilempar (dari Rahmat Allah)”.

Maka singkat cerita, ia menemui bahwa dirinya mempunyai kelebihan-kelebihan (yang mirip dengan mukjizat yang diberikan kepada Nabi isa AlaihisSalam, yang pada waktu itu belum diketahui dan difahami hakekatnya).

Dan dia diperbolehkan keluar dari pulau untuk mencari kebenaran dan hakekat dirinya itu sehingga ia dapat menentukan pilihan sampai menjelang waktu datangnya Nabi yang terakhir.

PERTEMUAN DENGAN NABI AGUNG YANG PERTAMA

Maka Dajjal pun keluar pulau untuk mencari kebenaran dan hakekat dirinya, pertama yang ditujunya adalah negeri moyangnya Samirah, kemudian ia berkelana ke Mesir, Sehingga ia mendapati pada masa itu seorang anak yang diambil dari Sungai Nil dan dipelihara dalam istana Raja. Rupanya ia berada pada masa Nabi Musa. Ia pergi belajar pada banyak filosof dan dukun-dukun pada masa itu. Kemampuannya menyerap pelajarana sangat luar biasa. Ia mempelajari bagaimana dukun-dukun itu mendapatkan informasi2 dari langit, ia belajar banyak sekali hal dan ilmu.

Ia juga menyaksikan semua mukjizat-mukjizat Nabi musa, maka ia tertarik untuk menyelidiki siapa hakekatnya Musa itu. Ia pergi menemui Musa, ia tidak menceritakan apa-apa kepadanya selain kesamaan dirinya dan Musa adalah dari keturunan Ishaq bin Ya’qub.

Tetapi Musa (mungkin) tidak memperhatikan orang itu, beliau hanya menuntut satu saja: agar ia beriman pada apa yang dibawa Musa berupa akidah, syariat dan mukjizat. Tetapi anak muda Samirah itu ragu untuk mengimani Nabi Musa. Ia menahan diri sehingga mendapatkan keyakinan siapa sebenarnya Musa itu.

Ia hidup ditengah-tengah Bani Israil, Ia juga menikah tetapi tiada mempunyai anak. (fakta tulisan manuskrip ini sesuai dengan sabda Rasulullah, “Dajjal itu mandul”).  Bahkan, ia pun menyaksikan peristiwa keluarnya Bani Israil dari Mesir secara besar-besaran, dan ia ikut bersama mereka.

Di dalam manuskrip itu diceritakan sebuah riwayat ketika kaum Nabi Musa di sesatkan oleh Samiri, ketika ditinggal Nabi Musa untuk menghadap Tuhannya. – (yang ternyata pada jaman Rasulullah, Allah telah berfirman dalam Al-Qur’an Surah Thaha, ayat 83-98). Namun, tidak dapat dipastikan apakah Samiri yang ada pada ayat itu adalah Dajjal ataukah yang lain. Hakekat Semuanya itu hanya Allah saja yang tahu.

Dalam Kitab Tafsir karya Ibn Jarir Ath-Thabari, ada suatu makna yang mendekati kebenaran informasi dengan isi manuskrip ini.

Dan Muhammad Isa Dawud menguraikan tafsiran atas ayat itu secara panjang, yang akan Salsa singkat dan ambil hanya sehubungan dengan Samiri saja. yaitu :

1.  Dalam QS. Surah Thaha, ayat 88  –  “kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang pembuatan itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara, maka ia berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa". –.

Tafsir : Perkataan Samiri kepada kaum Bani Israel ini, dengan mengatakan bahwa “patung inilah tuhanmu dan tuhan Musa, tetapi Musa telah lupa”, mengisyaratkan bahwa seolah-olah, Musa telah lupa bahwa tuhannya adalah sebuah patung sapi betina, namun Musa malah mencarinya entah dimana (ghaib). Hal ini jelas suatu fitnah yang besar terhadap Rasul Allah.

Dan jika dihubungkan dengan sabda Rasulullah Muhammad, “Bahwa tiada penciptaan yang lebih besar dari sejak diciptakannya Adam sehingga Hari Kiamat, kecuali fitnah Dajjal”,

- maka tiada seorangpun yang memfitnah ataupun memerangi Nabi-Nabi dan Rasul Allah seluruhnya daripada fitnah yang diucapkan Samiri tentang Musa dan Tuhan Musa. Kebanyakan Nabi-Nabi dan Rasul-Rasul diperangi dan ditentang ajarannya, dihina kepribadiannya, ditantang untuk membuktikan keberadaan Tuhan dan siksanya, bukan difitnah dengan mengatakan bahwa seorang Rasul telah lupa siapa Tuhannya.


2. “...ketika Nabi Musa mendapat berita dari Allah bahwa kaumnya sedang disesatkan oleh Samiri, maka Nabi Musa segera berbalik dan menemui kaumnya dalam keadaan marah.... lalu beliau bertanya kepada Samiri apa alasannya melakukan hal membuat patung anak sapi dari emas itu.

“Apa yang mendorongmu untuk melakukan (hal demikian), wahai Samiri?”. – QS. Surah Thaha, 95.

Samiri menjawab, “Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, maka aku ambil segenggam dari jejak Rasul (ajaran-ajarannya) lalu aku melemparkannya, dan demikianlah nafsuku membujukku”. – QS. Surah Thaha, 96.

Tafsirnya : “ Ternyata, Jawaban Samiri mempunyai ekspresi dan penuturan yang keras, seakan-akan ia telah mempunyai rencana sebelumnya untuk mengadakan uji coba kepada mereka. Ketika ada kesempatan, ia tidak berpikir panjang lagi dan langsung melakukannya dan ternyata berhasil.

Jejak Rasul yang dimaksudkannya adalah, Batu besar yang panelnya ditulisi oleh Malaikat Agung dengan tulisan-tulisan pelajaran dan ilmu Allah yang diberikan kepadanya ketika ia masih kecil dahulu. Disana ada sebuah batu yang indah warnanya dan juga tanah yang berwarna seperti tinta yang digunakan oleh Malaikat Agung untuk menulis. Tanah yang semacam tinta itulah yang selalu dibawanya dan ditaburkannya untuk mencampuri emas yang dilepuhkan untuk membuat patung sapi itu sehingga patung sapi itu terlihat seolah-olah mempunyai urat-urat laksana hidup dan bisa bersuara.

Dan pengakuannya yang mengatakan, “Saya mengetahui banyak hal yang tidak diketahui oleh mereka” ditafsirkan, -  Apabila dihubungkan dengan isi manuskrip itu, - maka ada kesesuaian hubungan kondisi, yaitu

Kala Apabila ia (Dajjal) keluar dari pulau itu, berkelana ditanah moyangnya (Samirah) dan kemudian pergi ke Mesir, belajar kepada banyak filosof dan dukun-dukun, dan bertemu dengan Nabi Musa, maka umurnya telah lebih dari 100 tahun (namun ia tidak terlihat tua sama sekali – yang untuk keadaannya ini, akan Salsa jelaskan nanti),

dengan pengalaman yang jauh lebih banyak yang bisa dicapai selama 100 tahun, Artinya ia mempunyai ilmu pengetahuannya yang lebih maju 100 tahun dari pengetahuan manusia pada jaman Nabi Musa. Sehingga ia telah memahami dan mengetahui beberapa kaidah ilmiah seperti fisika dan kimia, yang memungkinkannya berinovasi dalam melakukan banyak hal yang tidak dapat dilakukan oleh orang lain.

Maka Nabi Musa pun menyadari bahwa dirinya (mungkin) sedang berhadapan dengan seorang Dajjal. Sebab beliau sendiri pun telah diamanati oleh Allah untuk memperingatkan kaumnya dari fitnah Dajjal.

Namun, beliau juga diamanati untuk hanya menyampaikan risalah kepadanya dan bukan memeranginya. Seandainya dirinya diberi kekuasaan, tentu telah ditebasnya leher Samiri. Oleh karena menyadari amanat dari Tuhannya itu, Nabi Musa hanya menyuruh Samiri pergi”.

3. “Berkata Musa: "Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: "Janganlah menyentuh (aku)". Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan lihatlah tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan)”. – QS. Surah Thaha, 97.

“Pergilah kamu, maka sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia ini (hanya dapat) mengatakan: "Janganlah menyentuh (aku)". Ditafsirkan =  Samiri dibebaskan begitu saja. Dan hakekatnya Nabi Musa mengetahui suatu hal, bahwa (apabila Samiri itu adalah benar Dajjal), maka ia tidak dapat disentuh (diperangi) oleh dirinya (Nabi Musa), sehingga suatu masa tertentu yang telah ditentukan oleh Allah. Dan Hal seperti ini juga berlaku pada hadist Rasulullah (pada jamannya) yang ketika menyelidiki hakekat Ibnu Shayyad (yang diyakini oleh banyak orang dan para sahabat sebagai Dajjal pada jaman itu), Umar bin khatthab telah meminta ijin kepada Rasulullah untuk membunuhnya, maka Rasulullah melarangnya. Sebab bila memang benar Ibnu Shayyad itu adalah Dajjal (seperti hakekatnya Samiri) maka bukanlah suatu ketentuan untuk menyentuhnya (memeranginya) pada jaman itu. Tetapi bila ternyata bukan Dajjal, hakekatnyapun Nabi-Nabi Allah itu tidak menerima wahyu apapun yang memastikan bahwa Samiri ataupun Ibnu Shayyad itu adalah Dajjal.

“Dan sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya”.  Ditafsirkan = bahwa, bagaimanapun juga lamanya ia tidak tersentuh, namun hukuman akhirat (hukuman Allah) tiada dapat juga ia hindarkan.

Maka, setelah diusir oleh Nabi Musa, berkelanalah Samiri selama masa itu bersama orang-orang yang ditakdirkan oleh Allah menjadi pengikutnya dan memisahkan diri dari Nabi Musa.

Dan selama itu anak muda Samirah itu berkelana dari satu negeri ke negeri lainnya menjelajahi pulau-pulau dan negeri-negeri yang jauh, menimba ilmu dan belajar segala bahasa dan kehidupan bersama manusia-manusia lainnya. Sehingga pada suatu waktu ia rindu kepada pulau tempat tinggalnya dan berlayar pulang kembali kepulau.


Tulisan Terkait :

0 komentar :

Poskan Komentar

 

Resensi Akhir Zaman Copyright © 2013 | Template created by Dhie-Blog Tools